INDOZONE.ID - Bercanda ada batasnya, dan tak semua yang diucapkan adalah candaan. Di tengah zaman ketika batas bercanda menjadi kabur, sebuah momen mengharukan diabadikan oleh akun KKN Kelompok 31 UIN SGD Bandung pada akun TikTok/@kkn.31.wanakerta.
Tim mahasiswa KKN dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati ini melaksanakan programnya di Desa Wanakerta, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut.
Sebagai bagian dari kegiatan KKN, mereka juga mensosialisasikan anti-bullying dan mengajak anak-anak kelas 6 SDN 1 Wanakerta untuk menuliskan pengalaman mereka menjadi korban bullying dalam secarik kertas.
Dari seluruh kertas yang terkumpul, terlihat perasaan pilu dari anak-anak SD yang pernah menjadi korban bullying.
Banyak dari mereka merasa kurang percaya diri dengan bentuk fisik, merasa tidak nyaman karena nama orang tua dijadikan bahan ejekan, mengalami perlakuan fisik seperti dipukul dan diludahi, hingga merasa takut untuk masuk sekolah.
Isi dari beberapa kertas tersebut sangat membuat hati terenyuh:
"Aku pernah diejek gendut sampai takut ke sekolah."
"Aku takut kalau melihat penghapus bor karena pernah dilempar penghapus bor sampai mata merah dan buram sedikit."
"Takut masuk sekolah karena dibilang pendek."
"Aku takut bertemu teman yang mem-bully aku, karena dia mem-bully nama orang tua, jadi sampai kebawa mimpi."
Perlakuan yang sering dianggap sepele atau hanya sebagai lelucon saat kecil, ternyata bisa menjadi luka yang membekas pada korban hingga dewasa. Unggahan ini pun menarik perhatian banyak warganet.
Tak sedikit dari mereka yang membanjiri kolom komentar dengan cerita serupa atau menyetujui bahwa sekolah dasar adalah tempat di mana bullying sering terjadi.
"Pembullyan paling jahat memang di SD, sih." tulis salah seorang warganet yang menyetujui.
"Dampaknya sampai dewasa, tahu.."
"Pelaku bully mungkin akan selalu lupa, tapi tidak dengan korbannya."
Hentikan normalisasi bullying. Perasaan para korban menjadi pengingat bahwa dampak perundungan yang dianggap sepele saat kecil bisa sangat mendalam.
Luka fisik mungkin sembuh, tetapi luka emosional akan terbawa hingga mereka dewasa.
Seperti yang ditulis oleh akun tersebut, "Stop normalisasi bullying sejak kecil, yuk?! Dampaknya gini... korban akan selalu ingat!"
Tanggung jawab untuk menghentikan bullying tidak hanya berada di tangan teman, guru, atau keluarga, tetapi juga di pundak seluruh masyarakat untuk mencegah perundungan sejak dini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: TikTok/@kkn.31.wanakerta