Minggu, 07 SEPTEMBER 2025 • 17:20 WIB

Pilu, Mahasiswa KKN UIN Bandung Ungkap: Ini Isi Hati Anak-anak yang Pernah Dibully

Author

Ilustrasi menulis pengalaman di bully (freepik)

INDOZONE.ID - Bercanda ada batasnya, dan tak semua yang diucapkan adalah candaan. Di tengah zaman ketika batas bercanda menjadi kabur, sebuah momen mengharukan diabadikan oleh akun KKN Kelompok 31 UIN SGD Bandung pada akun TikTok/@kkn.31.wanakerta.

Tim mahasiswa KKN dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati ini melaksanakan programnya di Desa Wanakerta, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut.

Sebagai bagian dari kegiatan KKN, mereka juga mensosialisasikan anti-bullying dan mengajak anak-anak kelas 6 SDN 1 Wanakerta untuk menuliskan pengalaman mereka menjadi korban bullying dalam secarik kertas.

Foto perasaan yang dirasakan anak-anak SD saat mengalami perundungan (TikTok/@kkn.31.wanakerta)

Dari seluruh kertas yang terkumpul, terlihat perasaan pilu dari anak-anak SD yang pernah menjadi korban bullying.

Banyak dari mereka merasa kurang percaya diri dengan bentuk fisik, merasa tidak nyaman karena nama orang tua dijadikan bahan ejekan, mengalami perlakuan fisik seperti dipukul dan diludahi, hingga merasa takut untuk masuk sekolah.

Isi dari beberapa kertas tersebut sangat membuat hati terenyuh:

Baca juga: KKN UIN Jakarta Gelar SEKATA di SMKN 1 Tangsel: Edukasi Anti Pelecehan dan Bullying Demi Sekolah yang Aman

"Aku pernah diejek gendut sampai takut ke sekolah."

"Aku takut kalau melihat penghapus bor karena pernah dilempar penghapus bor sampai mata merah dan buram sedikit."

"Takut masuk sekolah karena dibilang pendek."

"Aku takut bertemu teman yang mem-bully aku, karena dia mem-bully nama orang tua, jadi sampai kebawa mimpi."

Perlakuan yang sering dianggap sepele atau hanya sebagai lelucon saat kecil, ternyata bisa menjadi luka yang membekas pada korban hingga dewasa. Unggahan ini pun menarik perhatian banyak warganet.

Baca juga: Mahasiswa KKN-T UNDIP Tim 11 Kelompok 2 Berikan Edukasi Anti-Bullying kepada Siswa Kelas 6 di SDN 2 Pudakpayung Semarang

Tak sedikit dari mereka yang membanjiri kolom komentar dengan cerita serupa atau menyetujui bahwa sekolah dasar adalah tempat di mana bullying sering terjadi.

"Pembullyan paling jahat memang di SD, sih." tulis salah seorang warganet yang menyetujui.

"Dampaknya sampai dewasa, tahu.." 

"Pelaku bully mungkin akan selalu lupa, tapi tidak dengan korbannya."

Hentikan normalisasi bullying. Perasaan para korban menjadi pengingat bahwa dampak perundungan yang dianggap sepele saat kecil bisa sangat mendalam.

Baca juga: KKN Tim II Universitas Diponegoro Gelar Edukasi Anti-Bullying di Pondok Pesantren Riyadlul Jannah, Para Santri Antusias

Luka fisik mungkin sembuh, tetapi luka emosional akan terbawa hingga mereka dewasa.

Seperti yang ditulis oleh akun tersebut, "Stop normalisasi bullying sejak kecil, yuk?! Dampaknya gini... korban akan selalu ingat!"

Tanggung jawab untuk menghentikan bullying tidak hanya berada di tangan teman, guru, atau keluarga, tetapi juga di pundak seluruh masyarakat untuk mencegah perundungan sejak dini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: TikTok/@kkn.31.wanakerta

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU