INDOZONE.ID - Di tengah isu lingkungan dan kebutuhan ekonomi lokal, mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) muncul dengan gagasan kreatif dan juga ramah lingkungan.
Pasar terapung rendah karbon dengan transaksi pakai koin bambu. Inovasi Pasar Terapung sebagai Wujud Ekowisata dan Ekonomi Lokal.
Pasar terapung ini dirancang sebagai tempat jual beli, yang punya atraksi ekowisata sekaligus pusat edukasi lingkungan.
Baca juga: 3 Mahasiswa IPB University Sulap Limbah Kelapa Sawit Jadi Panel Akustik Ramah Lingkungan
Produk Pasar Terapung
Di sana, produk yang diperjualbelikan berasal dari UMKM lokal yang telah kurasi sesuai prinsip keberlanjutan. Produk itu mencakup hasil hutan bukan kayu (HHBK), pangan lokal, kerajinan, dan pupuk alami.
Dengan model seperti ini, pasar terapung menjadi media penguatan UMKM lokal sekaligus memperkuat ekowisata berkelanjutan. Salah satu keunikan yang mencuri perhatian adalah sistem transaksi yang tidak menggunakan uang konvensional.
Alih-alih memakai rupiah biasa, transaksi dilakukan menggunakan koin bambu berbasis HHBK. Koin bambu ini menjadi simbol konkret integrasi nilai ekologis dan ekonomi dalam satu sistem pasar.
Transaksi dengan koin bambu pun memberi pengalaman unik bagi pengunjung, sekaligus mendorong penggunaan material lokal yang terbarukan.
Strategi Ramah Lingkungan dan Infrastruktur yang Mendukung
Konsep rendah karbon dari pasar terapung ini diperkuat lewat berbagai strategi terobosan. Pertama, kebijakan zero waste diberlakukan dengan melarang plastik sekali pakai, mendorong penggunaan wadah alami, dan mengelola sampah organik secara selektif.
Kedua, kualitas air di area pasar dijaga dengan sistem filtrasi alami yang sederhana mirip ekohidrologi demi menjaga ekosistem air tetap sehat.
Mobilitas di kawasan pasar diperuntukkan bagi pejalan kaki atau perahu tanpa mesin agar emisi karbon bisa ditekan. Infrastruktur pendukungnya pun dibuat dari material ramah lingkungan seperti bambu atau kayu daur ulang.
Baca juga: Mahasiswa KIP-K ITB Raih Juara 3 KTI Nasional Lewat Inovasi Kedelai Lokal
Bahkan tiket masuk tidak lagi menggunakan tiket kertas, tetapi sistem cap atau stempel ramah lingkungan guna mengurangi limbah cetak.
Tim gagasan ini pun membagi kawasan menjadi beberapa zona yaitu zona edukasi konservasi, transportasi sirkulasi, istirahat interpretasi, hingga zona demonstrasi ekokrasi.
Setiap zona merujuk pada prinsip rendah karbon dan keberlanjutan. Gagasan mereka juga sempat dibawa ke kompetisi dan meraih penghargaan. Menunjukkan bahwa ide kreatif ala mahasiswa bisa diapresiasi dan diwujudkan di dunia nyata.
Potensi Pasar Terapung
Jika berhasil diwujudkan, pasar terapung rendah karbon dengan koin bambu bisa jadi model baru bagi pasar-pasar di daerah pesisir atau daerah permukiman berbasis sungai. Ia bisa memajukan UMKM lokal, menarik wisatawan, dan sekaligus mengedukasi masyarakat soal ekologi.
Baca juga: Robot Canggih Karya Mahasiswa UNESA, Bisa Deteksi Korban Bencana Secara Otomatis
Di masa depan, pasar ini juga berpotensi dikembangkan menjadi destinasi wisata edukatif yang mendorong ekonomi sirkular. Nah gimana menurut kamu sama gagasan tim ITB ini?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ipb.ac.id