Pimred Indozone Soroti Tantangan Media di Era Sosmed dan AI di Depan Mahasiswa Universitas Moestopo
INDOZONE.ID - Pimpinan Redaksi Indozone, Fahmy Fotaleno, mengungkapkan bahwa dunia jurnalisme saat ini menghadapi tantangan dan dilema dalam produksinya.
Ia menyebut bahwa hasil karya jurnalisme yang diharapkan bisa bermanfaat, tapi justru kalah dengan berita-berita sensasional.
“Jurnalisme mengalami dilema ketika produksi harapannya bermanfaat tapi justru berita ecek-ecek atau sensasional yang diinginkan masyarakat,” ujarnya.
Hal ini diutarakan Fahmy Fotaleno di depan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) dalam acara Z Creators Goes to Campus, Kamis, 2 Oktober 2025.
Baca juga: Mahasiswa UNAIR Sabet Emas di Ajang WICE 2025 di Malaysia, Ciptakan Alat Deteksi CTS
Sebelumnya, pria yang akrab disapa Fino tersebut mengungkapkan bahwa media-media di Indonesia mulai turun atau jarang dilirik dari tahun 2015. Hal ini disebabkan karena sosial media sedang booming dan influencer bermunculan.
“Tahun 2015 media sudah mulai turun karena sosial media booming dan influencer mulai banyak, jurnalisme masuk masa sulit,” pungkasnya.
Ia juga menyinggung mengenai pembaca koran, yang di masanya sering sekali digunakan untuk mencari informasi terkini. Namun, saat ini orang sudah meninggalkan itu semua dan beralih ke digital.
“Dulu masih ada waktu buat baca koran, tapi sekarang udah gak ada, jadi jangkauan berkurang,” tegas Fino.
Baca juga: Robot Canggih Karya Mahasiswa UNESA, Bisa Deteksi Korban Bencana Secara Otomatis
Media Harus Bisa Menyesuaikan Zaman
Fino juga mengatakan bahwa saat ini media-media yang gak mengedepankan sisi soal media justru lebih banyak diminati oleh para Gen Z. Menurutnya, Gen Z sekarang itu lebih mau yang simpel-simpel aja.
“Kenapa bisa Gen Z lebih percaya info dari akun seperti dagelan lambe turah, karena Gen Z lebih pengen yang simpel aja,” ucap Fino.
“Maka bagaimana media bisa menjangkau itu, itulah kenapa Indozone mengubah gayanya. Untuk apa? Biar kalian baca, gak bisa cuma mengandalkan website doang,” sambungnya.
Baca juga: 5 Skill Marketing yang Bisa Bikin Mahasiswa Survive di Alice in Borderland
Ia juga negesin kalau media-media sekarang gak berubah, nantinya bakal ketinggalan zaman dan lama-kelamaan akan ditinggal oleh pembaca.
“Yang kami lakukan kami masuk disitu dong, menyesuaikan dengan kebutuhan,” kata Fino.
Baca juga: ITS Kembangkan Solar Cell Ramah Lingkungan, Dukung Pengembangan Energi Desa Wisata di Sidoarjo
Penggunaan AI dalam Jurnalisme
Saat ini, jurnalisme belum selesai menghadapi media, tapi langsung dihadapkan dengan AI (Artificial Intelligence). Menurut Fino, media benar-benar harus tahu bagaimana kerja dari AI.
“Kita gak bisa lari dari situ, itu benar-benar terjadi. Media harus tahu gimana kerja AI,” ucap Fino.
Jika para jurnalis di media-media saat ini tidak bisa memahami kerja AI, pada akhirnya bisa jadi masalah serius. AI mungkin terlihat negatif, tapi ada sisi positifnya juga kalau digunakan dengan benar.
“AI bisa meningkatkan kapasitas otak kalau kita berpikir dulu baru menggunakan AI,” ucapnya.
Baca juga: Wisuda Mengharukan! Saat Gelar Sarjana Dipersembahkan di Samping Ibu Tercinta di ICU
Ada satu hal yang disoroti oleh Fino untuk penggunaan AI dalam hasil jurnalistik, yaitu tidak bisa berempati.
“AI ini gak bisa merasa empati, karena itu hadir dari manusia langsung,” ucapnya.
Oleh karena itu, idealnya jurnalisme berkolaborasi dengan AI. Kolaborasi berarti kemampuan sebelumnya diperkuat dengan adanya AI, bukan mengganti dengan AI.
Ada beberapa hal yang bisa dimanfaatkan oleh media dalam menggunakan AI, mulai dari penyaringan data dan penyusunan berita, rekomendasi konten, hingga pembuatan judul dan SEO.
“Ingat bahwa AI itu bisa salah, apalagi yang pakai gratisan. Maka dari itu cross check adalah hal yang paling penting,” jelasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan