INDOZONE.ID - Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar pelatihan pengolahan eceng gondok menjadi bio briket ramah lingkungan di Bank Sampah Rekso Asri, Desa Kebumen, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang.
Kegiatan ini digagas sebagai salah satu kontribusi nyata UNS terhadap masyarakat di kawasan Rawa Pening.
Baca juga: Tim IoTelligence ITB Raih Juara 2 Berkat Inovasi Detektor Microsleep untuk Pengendara
Proses Pengolahan
Secara teknis, proses pengolahan dimulai dengan pencucian eceng gondok untuk menghilangkan kandungan lumpur dan kotoran, kemudian dijemur di bawah sinar matahari hingga kadar airnya menurun.
Setelah itu, proses arang dijalankan melalui pembakaran terkontrol, lalu arang digabungkan dengan tepung kanji dan air panas sebagai perekat sebelum dicetak menjadi bio briket.
Pelatihan ini adalah salah satu transfer teknologi dan juga pendampingan agar inovasi ini bisa berjalan dalam konteks lokal.
Pihak UNS menegaskan kalau bukan untuk menggantikan kerajinan lokal, tapi menyempurnakan praktik yang sudah ada agar menghasilkan nilai tambah ekonomi.
Kolaborasi, Tujuan dan Harapan
Inisiatif ini merupakan hasil kerja sama UNS dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dibiayai lewat program CSR Bank Jateng.
Kolaborasi ini sejalan dengan amanah dari Pemerintah Provinsi agar potensi Rawa Pening dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat tanpa merusak ekosistem.
Pendekatan inovasi ini juga dirancang untuk mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Dalam bidang energi bersih melalui penggunaan bioenergi dari limbah biomassa.
Serta membuka peluang usaha baru lokal yang dapat menyerap tenaga kerja, dan kontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim, lewat pengurangan limbah eceng gondok yang selama ini menjadi persoalan ekologi. Selain itu eceng gondok juga diangkat menjadi bahan paving block sebagai material bangunan alternatif.
Tantangan dan Peluang
Dalam tahap awal, skala produksi masih bersifat rumah tangga. Untuk menjangkau skala komersial, tantangannya mencakup menyediakan alat produksi massal, menjaga kualitas produk agar memenuhi standar daya bakar atau mutu paving block, dan mendistribusikannya secara efisien.
Edukasi masyarakat juga menjadi kunci penting agar mereka mau bergeser dari pola pandang eceng gondok sebagai sampah menjadi sumber ekonomi yang potensial. Dukungan regulasi lokal, branding produk, dan akses pasar akan sangat krusial.
Di sisi lain, potensi untuk menekan biaya produksi cukup besar karena bahan baku eceng gondok tersedia melimpah di Rawa Pening dan seringkali diabaikan. Jika dikemas dan dikelola secara baik, produk bio briket dan paving block hasil inovasi ini bisa menjadi komoditas bernilai.
Baca juga: Mahasiswa KIP-K ITB Raih Juara 3 KTI Nasional Lewat Inovasi Kedelai Lokal
Inovasi sederhana seperti ini bisa jadi langkah kecil dengan dampak besar baik bagi lingkungan maupun ekonomi lokal.
Nah kalau dari Rawa Pening ada inovasi dari eceng gondok, di daerah mu ada apa nih yang bisa dijadikan inovasi?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ft.uns.ac.id