Kamis, 16 OKTOBER 2025 • 11:44 WIB

Mikroplastik Merusak Manusia: Dosen UGM Imbau Pengendalian Ketat dan Perubahan Gaya Hidup

Author

Ilustrasi pencemaran mikroplastik (Freepik)

INDOZONE.ID - Penelitian terhadap beberapa orang di Jepang dan beberapa negara Eropa menyatakan bahwa kotoran manusia mengandung mikroplastik, plastik berukuran kurang dari 5 milimeter. Riset menemukan, rata-rata ada 20 potongan mikroplastik di dalam 10 gram kotoran manusia. 

Temuan ini meningkatkan kesadaran bahwa pangan maupun air minum berpotensi terkontaminasi zat asing bagi tubuh manusia. Philipp Schwable, seorang ahli gastroenterologi di Universitas Kedokteran Wina mengemukakan, pada hewan, mikroplastik telah mencapai aliran darah, sistem limfatik, dan plastik pada akhirnya telah menjangkau usus manusia. 

Baca juga: Nongkrong Bukan Sekadar Hura-Hura! Studi Buktikan Gaul Bareng Teman Jadi Vitamin Otak biar Mahasiswa Gak Pikun

Pengendalian Mikroplastik 

Mikroplastik kini telah hidup berdampingan dengan manusia, mulai dari udara, makanan, dan air. Dr. Annisa Utami Rauf, dosen sekaligus peneliti kesehatan lingkungan di FK-KMK Universitas Gadjah Mada, menekankan urgensi pengendalian paparan mikroplastik tingkat individu maupun kebijakan nasional. 

Upaya mengendalikan paparan mikroplastik sebenarnya terletak pada pengurangan dalam penggunaan plastik itu sendiri. Ia menegaskan, kebiasaan sehari-hari seperti menggunakan kantong belanja, bungkus makanan, serta pembungkus dalam transaksi daring masih dominan menjadi sumber pencemaran mikroplastik. 

“Perubahan gaya hidup menjadi langkah awal yang paling realistis untuk mengurangi dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan. Masyarakat juga perlu lebih selektif memilih produk dengan kemasan yang minim plastik,” ujarnya.   

Baca juga: Menghadapi Lingkungan Teman yang Toxic untuk Kesehatan Mental

Tindakan remeh di kehidupan sehari-hari dapat memberikan pengaruh besar. Masyarakat dapat menerapkan hal tersebut, mulai dari membawa tumbler, menghindari air kemasan sekali pakai, dan menggunakan wadah yang aman digunakan berulang kali.  

 Kepedulian Lingkungan Kampus 

Universitas Gadjah Mada telah mendorong para mahasiswa untuk mengurangi penggunaan plastik. Di lingkungan pendidikannya, UGM bergerak menyediakan Toyagama gratis, yang dapat meangakses air minum bersih di berbagai titik kampus. Selain sangat memperhatikan kesehatan warga kampus, UGM memiliki kepedulian yang tinggi pada lingkungan hidup. 

Namun, ia memperingatkan perlu ada kebijakan ketat terkait standar keamanan air minum dan pengawasan bahan kemasan yang digunakan masyarakat luas, karena air minum galon sekali pakai maupun isi ulang dari depot (DAMIU) tidak sepenuhnya bebas dari risiko. Beberapa penelitian menunjukkan adanya kandungan mikroplastik jenis high density polyethylene (HDPE) dan polyethylene terephthalate (PET) pada wadah.

Baca juga: Mahasiswa USU Sulap Limbah Plastik Jadi Gigi Palsu! Inovasi Keren Ini Raih Penghargaan Nasional

Annisa juga menekankan pentingnya penguatan riset dan kebijakan publik untuk memahami serta menekan dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia. Ada pun keterbatasan fasilitas laboratorium untuk pengujian dan analisis mikroplastik di banyak wilayah Indonesia. Meski demikian, ia tetap optimistis terhadap perkembangan riset di bidang ini.   

Mikroplastik di Indonesia harus segera direalisasikan, karena Mikroplastik telah mengganggu metabolisme tubuh dan kerusakan dalam organ tubuh. Selain tersusun lebih dari 10.000 senyawa kimia beracun, mikroplastik bisa menjadi agen penyalur polutan dari lingkungan hingga masuk kedalam rantai makanan manusia. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Ugm.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU