INDOZONE.ID - Prestasi kembali diraih oleh Universitas Gadjah Mada, yang berhasil menempati peringkat pertama Indonesia’s 68 Best Literature Universities versi Edurank University 2025.
Torehan ini tidak terlepas dari Departemen Bahasa dan Sastra Fakultas Ilmu Budaya UGM, yang jadi motor penggerak utama bidang humaniora UGM.
Prestasi ini juga jadi komitmen bahwa UGM selalu menjaga mutu pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat.
Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM, Prof. Setiadi mengungkapkan bahwa ini adalah hasil kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan. Hal ini tidak terlepas dalam membangun ekosistem akademik yang produktif dan relevan bagi perkembangan zaman.
Baca juga: Dari Tambak ke Teknologi: Kisah Dosen BINUS yang Ubah Inovasi Lokal Jadi Dampak Global
“Selain itu, reputasi akademik yang tercermin melalui publikasi ilmiah, kegiatan penelitian, serta kontribusi alumni di berbagai bidang juga menjadi pendorong utama,” ujarnya.
Setiadi juga menyebut bahwa FIB UGM melakukan langkah strategis untuk penguatan kolaborasi riset, baik skala nasional maupun internasional.
Pihaknya mengembangkan riset pada bidang humaniora dengan pendekatan interkultural, intertekstual, hingga digital humanities.
Baca juga: Kisah Maryette McFarland: Mahasiswi 90 Tahun Akhirnya Wisuda dan Jadi Inspirasi Dunia
Sementara fokus penelitian yaitu kepada isu-isu aktual seperti sastra dan keberlanjutan, sastra dan teknologi, hingga identitas budaya.
Bukan cuma itu, FIB juga melakukan Program Percepatan Publikasi Ilmiah. Program ini memberikan pendampingan intensif bagi dosen dan penulis buat menerbitkan artikel di jurnal bereputasi.
“Kedepannya, FIB UGM akan terus memperkuat hilirisasi hasil riset dan karya akademik agar memiliki dampak lebih luas, tidak hanya dalam bentuk publikasi ilmiah, tetapi juga melalui karya budaya yang dapat dinikmati masyarakat,” ujar Setiadi.
Baca juga: Merangkul Tanpa Batas: Wisuda Universitas Terbuka Yogyakarta Jadi Bukti Pendidikan untuk Semua!
Salah satu dosen FIB UGM, Prof. Aprinus Salam mengungkapkan rasa bangga atas capaian ini. Ia juga menyoroti bagaimana pentingnya apresiasi mahasiswa dalam evaluasi, termasuk kepada dosen.
Jadi, sedapat mungkin kita selalu saling mengevaluasi diri. Suasana akademik yang demokratis itu kita perjuangkan. Setiap semester, kita harus tahu apa progres mahasiswa selama kuliah. Mahasiswa harus selalu berkembang dan merasa berarti kuliah di UGM,” ujar Aprinus.
Baca juga: ZEKE-03, Inovasi Drone Multitalenta ITB: Bisa Terbang, Merayap, dan Menyusup ke Ruang Sempit
Sebagai dekan, Setiadi berharap bahwa prestasi ini bisa jadi inspirasi bagi banyak mahasiswa maupun dosen untuk terus berkarya. Selain itu, diharapkan bisa kontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan.
“FIB UGM akan terus berupaya menjadi pusat unggulan dalam kajian bahasa, sastra, dan budaya yang berkontribusi nyata bagi pengembangan ilmu humaniora di tingkat internasional,” harapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ugm.ac.id