INDOZONE.ID – Tim mahasiswa UNEJ melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penerapan IPTEK (PKM-PI), berhasil meraih pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
Capaian yang diakui secara nasional ini diperoleh berkat inovasi mereka berupa alat pengering tembakau otomatis bernama DryToba.
Baca juga: Mahasiswa UGM Kembangkan Alat Sortir Lele Berbasis Sensor
DryToba dirancang sebagai solusi dari pengeringan tembakau di Kelompok Tani Desa Bades, salah satu kelompok bubidaya tembakau terbesar di Kabupaten Lumajang.
Daerah tersebut menghadapi tantangan besar akibat ketidakpstian iklim.
Alat ini berfungsi untuk membantu proses pengeringan agar lebih cepat, higienis, dan ramah lingkungan, tidak lagi bergantung pada kondisi cuaca.
Proses pengeringan tembakau konvensional tidak hanya memakan waktu 7–10 hari, tetapi juga sangat rentan terhadap curah hujan tinggi.
Baca juga: Fisikawan IPB Ungkap Objek Berkecepatan Tinggi dari Angkasa Berpotensi Mengancam Kehidupan di Bumi
Kondisi ini memperpanjang waktu pengeringan hingga 15 hari, menyebabkan sekitar 30% produk tembakau mengalami penurunan mutu dan kerugian finansial akibat turunnya harga jual hingga 20%.
Rizki Agus Setyawan selaku ketua tim pelaksana menuturkan, mesin ini dirancang untuk menjaga suhu ideal pada kisaran 30 derajat Celsius dan dapat bekerja otomatis selama 24 jam tanpa tergantung cuaca.
Mesin ini mampu mengeringkan hingga 250 kg daun tembakau basah dalam waktu hanya 2–3 hari, jauh lebih cepat dibandingkan metode konvensional yang memakan waktu hingga dua minggu.
Inovasi tersebut meningkatkan efisiensi pengeringan hingga 70% dan mampu menekan tingkat kerusakan produk yang semula 30% menjadi hanya 3%.
Baca juga: Mahasiswa UI Ciptakan Inovasi ASBA, Teknologi AI Buat Atur Jadwal Kapal Otomatis
“Sebelumnya kami harus menunggu cuaca panas beberapa hari agar tembakau bisa kering sempurna. Sekarang, dengan alat ini, prosesnya lebih cepat dan hasilnya lebih bagus. Kualitas tembakau kami juga stabil, jadi harganya tidak jatuh,” ujar Gunawan, Ketua Kelompok Sukatani yang merasakan langsung manfaat DryToba.
Dengan biaya operasional mesin yang diperkirakan Rp3.000.000 per musim, petani mitra dapat meningkatkan pendapatan bersih hingga 25%.
Rata-rata pendapatan bersih per hektar dari budidaya tembakau yang sebelumnya Rp50.000.000, kini berpotensi meningkat menjadi Rp62.500.000 per hektar.
Program PKM-PI tidak hanya menyerahkan alat, tetapi juga memberikan pelatihan intensif kepada petani mengenai perawatan alat, pemeliharaan suhu, dan pengelolaan hasil panen tembakau agar lebih bernilai jual di pasaran.
Baca juga: Dari Tambak ke Teknologi: Kisah Dosen BINUS yang Ubah Inovasi Lokal Jadi Dampak Global
Diharapkan, penerapan teknologi DryToba dapat menjadi langkah awal menuju pertanian tembakau modern yang efisien dan berkelanjutan di wilayah Lumajang.
DryToba menjadi bukti nyata mahasiswa UNEJ mampu berkontribusi memecahkan masalah di tengah masyarakat dan mendorong peningkatan kualitas komoditas unggulan daerah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Unej.ac.id