INDOZONE.ID - Acara International Summer Course on Interprofessional Healthcare diselenggarakan di Universitas Gadjah Mada.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK), Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), dan Fakultas Farmasi UGM. Acara ini mengangkat tema “Promoting Resilient Workplaces and Sustainable Environments for Global Health Equity”.
Baca juga: Uhamka Dinobatkan sebagai Kampus Muhammadiyah Terbaik Kinerja Riset SINTA
Diikuti dari Kampus Berbagai Negara
Acara ini diikuti oleh puluhan mahasiswa asing, berasal dari Vrije Universiteit Medical Center - VuMC (Belanda), University Medical Center Groningen (Belanda), Mahidol University (Thailand), dan beberapa mahasiswa dari Myanmar serta Pakistan.
Selain itu, ada juga dari beberapa kampus dari Indonesia, seperti Universitas Pattimura, Universitas Islam Internasional Indonesia, dan pastinya UGM.
Ketua Tim Internasionalisasi FK-KMK UGM, dr. Dwi Aris Agung Nugrahaningsih, menyebut bahwa tema yang dipilih memang bisa dari biasanya.
“Memang temanya agak beda ya. Dengan orang bekerja itu apa saja, kemudian apa mitigation plan-nya atau tindakannya, apa risikonya. Itu harapannya bisa memberikan manfaat juga kepada mereka karena pencegahan itu penting, tidak hanya tentang mengobati pasien,” tuturnya.
Baca juga: Kesan Pertama Dua Mahasiswa Pertukaran di SNU: Dari Budaya hingga Minat Kelas Bahasa Korea
Kunjungan ke Desa Batik Giriloyo
Mereka mengunjungi Desa Batik Giriloyo, Wukirsari, buat belajar mengenai prinsip keselamatan, kesehatan kerja, dan praktek kerja berkelanjutan.
Gak hanya itu, para peserta juga ikut membuat batik bersama-sama dengan berbagai kelompok. Salah satu peserta asal Belanda, Johan, mengaku bahwa membatik merupakan kegiatan yang baik, tapi menurutnya perlu ada pelindung biar gak terkena panas dari malam (cairan lilin).
“Menurut saya akan lebih baik untuk menggunakan alat pelindung diri, seperti sarung tangan agar terhindar dari bahaya panas saat membatik,” katanya.
Lalu ada Michelle, mahasiswa asal Belanda lainnya yang merasa bahwa kegiatan ini menarik dan menantang. Hal ini karena pembatik harus duduk dalam waktu yang panjang, dengan berbagai kesulitan.
“Jadi, bagaimana cara mereka melakukan secara lebih efisien untuk tubuh sehingga mereka dapat bekerja lebih nyaman. Solusinya adalah mereka dapat melakukan olahraga kecil di antara waktu membatik, tidak duduk terlalu lama, peregangan sekali-sekali, dan pastikan punggungnya baik-baik saja,” katanya.
Baca juga: UIN Jakarta Berikan Beasiswa kepada 138 Dosen dan Teknik Mencapai Rp2,85 Miliar
Koordinator Lapangan Summer Course, Dr. Drs. Abdul Wahab, jelasin bahwa kunjungan ke Desa Batik ini merupakan rangkaian aktivitas Summer Course lainnya.
“Para mahasiswa ini akan mengobservasi bagaimana keselamatan yang diterapkan di perusahaan atau di industri sehingga mereka bisa mencegah dampak kesakitan yang diakibatkan oleh pekerjaan,” jelasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ugm.ac.id