Minggu, 09 NOVEMBER 2025 • 15:40 WIB

Mahasiswa UNY Ubah Kulit Pisang Jadi Alat Deteksi Logam di Air, Lebih Efisien dan Murah

Author

Mahasiswa UNY sedang meneliti di Lab (uny.ac.id)

INDOZONE.ID - Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) membuat sebuah inovasi unik, untuk jaga kualitas air dengan menggunakan kulit pisang. 

Tim mahasiswa ini melakukan riset berjudul “Green Synthesis Cu2O/TiO2 Nanotube Arrys (TNA) buat Deteksi Ion Pb2+ di Air”.

Hasilnya, tim ini berhasil kembangin teknologi ramah lingkungan yang bisa deteksi keberadaan logam berat timbal (Pb2+) jadi lebih efisien serta berkelanjutan.

Baca juga: Makan Malam Networking di Korea Buktikan Koneksi BINUS Tak Kenal Jarak dan Waktu

Inovasi ini hadir dari keprihatinan karena meningkatnya pencemaran air di Kota Yogyakarta. Dari data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) 2024, kadar timbal di Sungai Winongo, Gajah Wong, dan Code naik signifikan. Awalnya ada di angka 0,015 mg/L jadi 0,09 mg/L.

Kandungan timbal ini memiliki sifat toksik dan bioakumulatif, yang dapat mengancam kesehatan manusia, khususnya pada sistem saraf dan organ vital. Bahkan bisa berdampak kepada rantai makanan.

Tim mahasiswa ini terdiri dari lima orang, yaitu Bonita Arum Ningtyas (S1 Fisika), Devita Amalia Zuhrida (S1 Fisika), Martin Immanuel Panjaitan (S1 Fisika), Kunnasywa Sani (S1 Kimia), dan Melda Novita Rahmadani (S1 Kimia).

Baca juga: Dosen Pembimbing Sulit Ditemui? Ini Strategi Jitu Mahasiswa untuk Tetap Lanjut Skripsi

Dengan situasi tersebut, mereka bergerak buat menghadirkan sensor air berbasis fotokatalis, tapi lebih efisien, murah, praktis, dan ramah lingkungan. 

Dalam prakteknya, mereka mengganti bahan kimia sintesis dengan senyawa alami polifenol yang berasal dari kulit pisang kepok. 

“Selama ini, metode deteksi timbal memerlukan reagen kimia dan alat canggih yang mahal. Kami ingin menciptakan cara yang lebih sederhana, berbasis bahan alami yang bisa ditemukan di sekitar kita,” jelas Bonita selaku ketua tim.

Baca juga: Wali Kota New York Zohran Mamdani Ternyata Lulusan Ilmu Budaya, Bukti Kalau Humaniora Punya Peran Besar

Pisang kepok diolah jadi ekstrak kaya polifenol, setelah itu dipakai untuk hasilin material Cu2O/TNA lewat proses deposisi elektrokimia. 

Material ini bisa menyerap cahaya dan hasilin respons fotolistrik saat bereaksi dengan ion timbal di air. Hal ini bisa deteksi adanya kandungan Pb2+ dengan tingkat akurasi tinggi.

Selain efisien, metode green synthesis ini bisa mendukung prinsip ekonomi sirkular, karena mengubah limbah organik jadi barang bernilai. Biasanya, kulit pisang itu dibuang, tapi sekarang ada solusi penyelesaian atas masalah ini.

Baca juga: Roblox dan AI Jadi Kunci! FTI Untar Siapkan Generasi Z Sambut Industri Game Masa Depan

Penelitian ini juga dapat pendanaan dari Kemdiktisaintek lewat Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE) tahun 2025. Tim UNY juga berharap bahwa inovasi ini bisa digunakan secara luas oleh masyarakat.

“Kami ingin kontribusi kecil ini menjadi langkah nyata menuju teknologi pemantauan air yang berkelanjutan,” tambah Devita.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Uny.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU