Rabu, 03 DESEMBER 2025 • 12:55 WIB

UPER Kenalkan Maggot BSF, Pengurai Limbah Organik: 3 Kali Lebih Cepat dan Rendah Emisi Metana

Author

UPER Kenalkan Pengolahan Sampah Organik dengan Maggot BSF (universitaspertamina.ac.id)

INDOZONE.ID - Universitas Pertamina (UPER), melalui Program Studi Kimia, menyelenggarakan pelatihan mengenai pemanfaatan limbah organik sebagai upaya mendukung lingkungan yang lebih bersih.

Kegiatan yang berfokus pada teknik pengelolaan sampah rumah tangga ini dilaksanakan pada 12 November 2025 di Kampung Wadassari, Kota Tangerang Selatan. 

Baca juga: LSPR Institute Edukasi Siswa SMA Lewat “Shred & Thread Project”, Solusi Bisnis dari Isu Lingkungan

Pelatihan tersebut diikuti oleh sekitar 50 peserta yang sebagian besar adalah Ibu-Ibu PKK, dan didampingi oleh 15 mahasiswa Prodi Kimia UPER.

Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat seiring bertambahnya volume sampah organik harian.

Sesi pertama pelatihan mengenalkan cara mengolah limbah dapur menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF), atau lebih dikenal dengan nama maggot (larva dari lalat tentara hitam).

Maggot BSF memiliki keunggulan luar biasa; ia mampu mengurai sampah organik tiga kali lebih cepat dibandingkan metode komposting konvensional. 

Baca juga: UBSI "Upgrade Skill" Tata Pamong Paninggilan Utara dengan Pelatihan Komunikasi dan Kepemimpinan

Selain itu, proses penguraian menggunakan maggot menghasilkan emisi metana yang lebih rendah.

Materi teknis ini disampaikan oleh Aminudi Amin, S.Si., yang merupakan CEO PT Biomagg Sinergi Internasional.

“Maggot mampu mengolah sampah organik tiga kali lebih cepat dengan emisi metana lebih rendah. Seluruh prosesnya aman dilakukan di lingkungan rumah tangga,” ungkapnya.

Selain manfaat lingkungan, maggot juga memiliki nilai ekonomi karena dapat dijual sebagai pakan ternak atau disalurkan kepada pihak pengolah. 

Baca juga: Inovasi USK untuk Peternak Aceh: Kenalkan Green Concentrate Pellet, Pakan Ternak Ekonomis dari Bahan Baku Lokal

Para peserta juga mendapatkan pelatihan praktik langsung menggunakan starter kit budidaya maggot, mempelajari cara memilah sampah dan memantau siklus hidup maggot hingga masa panen.

Teknik tersebut sangat mudah diterapkan oleh warga karena mampu mengurai sampah dalam waktu singkat tanpa menimbulkan bau menyengat.

Pada sesi lanjutan, peserta diperkenalkan pada pemanfaatan bahan alami untuk menciptakan produk rumah tangga yang bernilai tambah.

Tiga dosen dari Prodi Kimia UPER—Dr. Eng. Paramita Jaya Ratri, Dr. Eng. Tirta Rona Mayangsari, dan Dr. Suharti Sastroredjo—turut memberikan pelatihan tersebut. 

Baca juga: Mahasiswa UNAIR Hidupkan Kampung Peneleh Melalui Edukasi Kreatif dan Pengelolaan Limbah Jelantah

Dr. Paramita memaparkan cara membuat sabun organik dari bahan-bahan alam, yang aman digunakan dan mendukung praktik konsumsi berkelanjutan karena minim bahan kimia sintetis.

Sementara itu, Dr. Suharti mengajarkan teknik fermentasi untuk membuat cuka dari buah nanas. Cuka buah ini bermanfaat karena mengandung asam alami, probiotik, vitamin, dan mineral.

Pelatihan ini secara keseluruhan dirancang untuk memberdayakan warga agar dapat mengurangi limbah secara mandiri sekaligus membuka peluang untuk mengubah bahan sederhana menjadi produk yang bernilai jual.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Universitaspertamina.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU