Rosalia, Mahasiswa Unesa Peraih IPK 3,84 yang Jadi Asisten Pelatih Akademi Basket Taraf Internasional
INDOZONE.ID - Rosalia Amalia Ayuning Lestari, mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), meraih predikat wisudawan terbaik.
Pencapaian akademiknya menghasilkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,84 pada Wisuda ke-117 Unesa di awal November lalu.
Baca juga: Kisah Sauqi Sawa Bikalawan Jadi Lulusan Terbaik Unesa yang Lulus S2 Tanpa Tesis
Hebatnya, pencapaian tersebut diimbangi dengan kariernya sebagai asisten pelatih paruh waktu di DBL Academy, sebuah akademi basket bertaraf internasional.
Kisah Rosa dimulai pada 2021 saat masa pandemi, kala dua semester pertamanya dihabiskan sebagai "angkatan Covid" dengan metode kuliah daring total.
“Belajar olahraga lewat Zoom itu aneh banget. Rasanya kurang efektif karena enggak bisa praktik,” ujarnya.
Namun, masa itulah yang mendorong Rosa menjadi pribadi mandiri, memaksanya mencari referensi sendiri, berdiskusi dengan dosen secara online, dan menonton berbagai video pelatihan.
Baca juga: Mahasiswa UNIKOM Sabet Emas di Ajang Internasional: Raih Juara di WorldSkills Asia Taipei 2025
Meski dibesarkan dalam keluarga yang dekat dengan dunia olahraga, Rosa awalnya mengakui dirinya sebagai pribadi yang pemalu dan kurang nyaman tampil di hadapan banyak orang.
Hal ini sempat membuatnya ragu, sebab dunia kepelatihan menuntut komunikasi yang aktif, ketegasan, dan interaksi intensif.
Namun, keraguan itu mulai pudar ketika ia menjalani program magang selama empat bulan di DBL Academy Pakuwon City Mall.
Di sana, Rosa bertemu dengan peserta dari berbagai negara seperti India, Malaysia, Korea Selatan (Korsel), dan Singapura.
Baca juga: Keren! Universitas Airlangga Raih Juara 1 Kampanye Komunikasi Publik dari Kemkomdigi
Pengalaman tersebut menantangnya untuk tidak hanya fokus pada teknik, tetapi juga belajar membaca karakter dan memahami perbedaan budaya.
Terkadang ia harus berbahasa Inggris, atau mengandalkan ekspresi. “Setiap anak itu beda. Latihan yang cocok untuk satu kelompok belum tentu cocok untuk yang lain.”
Pengalaman magang itu memberinya keberanian. Setelah menyelesaikan programnya, Rosa memutuskan melamar posisi asisten pelatih paruh waktu dan diterima.
Kini, ia dipercaya menangani salah satu kelas, bahkan menjadi Person in Charge (PIC) untuk kelompok usia 5–6 tahun, bagian dari total sekitar 500 peserta akademi yang berusia 3 hingga 18 tahun.
Baca juga: Program MULTISOY UPI Wujudkan Pemanfaatan Bahan Pangan Berkelanjutan
“Anak-anak kecil itu jujur banget. Kalau nggak suka, kelihatan. Tantangannya gimana bikin latihan terasa menyenangkan,” selorohnya.
Kesibukannya sebagai pelatih tidak menghalangi Rosa untuk berprestasi akademik, berkat dukungan dari pihak akademi yang memahami jadwalnya sebagai mahasiswa.
Rosa bahkan memanfaatkan DBL Academy sebagai lokasi untuk penelitian skripsinya, ia meneliti motivasi latihan dan perkembangan motorik anak usia dini lewat permainan basket yang dimodifikasi.
Bagi Rosa, kuliah adalah perjalanan menemukan jati diri. Ia berpesan, jika masih ragu, seseorang harus berani keluar dari zona nyaman untuk meraih hal positif yang bisa membawa kemajuan.
Baca juga: Jalan Pintas Menuju Petaka Akademik, 4 Dampak Negatif Pakai Joki Tugas yang Wajib Mahasiswa Tahu!
Terkadang, batas terbesar seseorang adalah dirinya sendiri, dan ketika batas itu ditembus, berbagai peluang baru akan terbuka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Unesa.ac.id