Selasa, 10 MARET 2026 • 13:00 WIB

Persiapan Hanya Sepekan! Mahasiswa ITB Berhasil Sabet Dua Penghargaan di AYDA Indonesia 2026

Author

Prosesi Awarding AYDA Awards di The Westin Hotel, Jakarta saat Evan diumumkan sebagai pemenang Alumni’s Choice, Februari 2026 (itb.ac.id)

INDOZONE.ID - Stefanus Evan Winarta, mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung (ITB), menorehkan prestasi di tingkat nasional.

Evan, yang merupakan mahasiswa Magister Desain angkatan 2025, memboyong dua penghargaan dalam ajang Asia Young Designer Awards (AYDA) Indonesia 2026 di Jakarta pada Februari lalu.

Baca juga: Mahasiswa UIN Alauddin Kembali Ukir Prestasi, Raih Juara I KTIQ di MTQ Selayar

Sebanyak dua kategori penghargaan yang berhasil diraih oleh Evan adalah Honorary Mention dan Alumni's Choice. Kemenangan ini diraihnya melalui karya desain interior yang terinspirasi dari narasi lokal berjudul "Legenda Putri Komodo".

Perjalanan Evan tergolong cukup menantang. Di tengah kesibukan menempuh studi melalui Program Penyatuan Sarjana Magister (PPSM) dan mulai meniti karier profesional, ia memutuskan untuk menantang diri mengikuti kompetisi desain bergengsi di tingkat Asia.

Menariknya, Evan baru mengetahui informasi lomba hanya satu pekan sebelum batas akhir pengumpulan karya.

Meskipun hanya mempunyai waktu persiapan yang sangat singkat, ia tetap optimistis untuk menguji gagasan akademisnya di dunia profesional.

Karya yang ia ajukan merupakan pengembangan dari Tugas Akhir masa sarjananya di program studi Desain Interior.

Baca juga: Rayakan HUT ke-58, Ubaya Gelar Lomba Kreasi Bekal Anak dengan Juri Cilik yang Unik

Dengan mengangkat tema kompetisi "Converge: Crafting Cultural Legacies," Evan menggunakan sudut pandang fiksi seorang putri komodo sebagai landasan konsep desainnya.

Melalui desain tersebut, ia ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya hubungan yang harmonis dan saling menghargai antara manusia dengan alam sekitar.

Proses kreatif yang dilakukan tidaklah mudah. Ia harus mampu menerjemahkan narasi fiksi yang abstrak ke dalam keputusan tata ruang yang konkret untuk sebuah resor.

“Tantangan terbesarnya adalah memastikan tipologi yang saya pilih sesuai dengan konteks lomba dan bahasa yang saya gunakan dapat menjelaskan ide tanpa membuatnya terlalu abstrak,” tutur Evan. 

Selama mengikuti rangkaian kompetisi, termasuk sesi pelatihan intensif dan karantina selama tiga hari, Evan mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga yang tidak ditemukan di bangku kuliah.

Baca juga: Keren! Mahasiswa Unpad Sabet Juara 1 Kompetisi Debat Nasional Wecotion 2026

Ia memiliki kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan para mentor dan sesama finalis, yang membantunya melihat kekuatan serta kelemahan dari rancangan yang telah dibuat.

Bagi Evan, prestasi yang didapat bukan sekadar tentang piala. Ia merasa bangga karena kompetisi tersebut telah memperluas sudut pandangnya sebagai seorang desainer.

Ia juga berpesan bahwa keberhasilan dalam sebuah kompetisi tidak ditentukan oleh senioritas, melainkan oleh kematangan gagasan dan keberanian untuk mencoba.

“Sering kali kita terlalu fokus pada satu hal sampai tidak sadar bahwa pekerjaan lain yang sedang kita lakukan memiliki potensi besar. Kompetisi ini membuat saya melihat karya saya dari perspektif yang berbeda,” ungkapnya.

Pengalaman ini menjadi bekal berharga baginya untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi pada dunia desain interior di masa depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Itb.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU