INDOZONE.ID - Dua guru besar akan dikukuhkan oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Pabelan, Sukoharjo, Jawa Tengah.
Dua guru besar tersebut adalah Prof. Kussudyarsana dan Prof. Arum Pratiwi. Keduanya merupakan Guru Besar ke-71 dan ke-72 yang dimiliki UMS.
Profesor Kussudyarsana berhasil menjadi guru besar setelah menyelesaikan disertasi bertema “Bisnis Keluarga Skala UMKM dalam Pusaran Ekonomi Indonesia: Tantangan Tata Kelola dan Keberlanjutan Usaha”.
Sementara itu, Profesor Arum Pratiwi mengangkat tema “Revitalisasi Energi Otak melalui Manajemen Stres untuk Kesehatan Jiwa Optimal”.
Menurut Prof. Kussudyarsana, tema tersebut berawal dari keresahannya sebagai akademisi melihat banyaknya bisnis keluarga yang tidak mampu bertahan lama. Padahal, secara pengelolaan, bisnis umum dan bisnis keluarga memiliki kesamaan, namun perlakuannya berbeda. Hal inilah yang menjadi fokus kajiannya.
“Di Indonesia, usaha mikro UMKM sangat mendominasi dibandingkan negara tetangga di ASEAN. Persentasenya mencapai 98–99 persen, sementara usaha menengah hanya 0,05 persen. Dari sisi kelembagaan, hanya 1,22 persen UMKM yang memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), dan hanya 3,51 persen yang memiliki laporan keuangan. Partisipasi dalam Global Value Chain pun hanya sekitar 4 persen selama 20 tahun,” jelas Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMS tersebut dalam jumpa pers di UMS, Senin (27/4/2026).
Baca juga: Mahasiswa UMS Raih Gold Medal MTE 2026 Lewat Inovasi AI "PERMATA", Dukung Pemulihan Kesehatan Mental
Dalam penelitiannya, kegagalan bisnis keluarga dalam keberlanjutan lintas generasi disebabkan oleh tiga hal.
Pertama, percampuran kepentingan keluarga, kepemilikan, dan manajemen. Kedua, socioemotional wealth, yaitu keterikatan emosional terhadap perusahaan dan keinginan mempertahankan kepemilikan lintas generasi. Ketiga, asymmetric altruism, yakni kecenderungan orang tua memberi lebih kepada anak yang berisiko mengurangi disiplin dan kontrol tata kelola.
“Dari penelitian ini, 70 persen bisnis keluarga gagal sebelum generasi kedua, 13 persen bertahan hingga generasi ketiga, 3 persen sampai generasi keempat, dan rata-rata usia bisnis keluarga hanya 24 tahun,” ujarnya.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa dalam jaringan triple helix, yakni kolaborasi antara perguruan tinggi, asosiasi usaha, dan pemerintah, bisnis keluarga memberikan pengaruh positif.
“Temuan ini menegaskan bahwa ketangguhan bisnis keluarga tidak semata ditentukan oleh besarnya modal, tetapi oleh kekuatan relasi dan kemampuan beradaptasi,” tambahnya.
Sementara itu, Guru Besar Keperawatan Jiwa, Prof. Arum Pratiwi, menjelaskan bahwa otak manusia tidak bisa “diisi ulang”, melainkan energinya yang perlu direvitalisasi agar berfungsi optimal.
“Yang direvitalisasi adalah energi otak agar lebih optimal. Dengan revitalisasi ini, fungsi otak dapat meningkat, seperti lebih fokus, tidak mudah lupa, serta lebih terkontrol dalam mengelola emosi,” jelas Arum.
Ia juga memaparkan enam tahap respons kesehatan jiwa. Pertama, kondisi sehat mental, yaitu mampu mengelola stres dan berfungsi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, stres sebagai respons normal terhadap tekanan yang masih dapat diatasi dengan strategi koping efektif.
Ketiga, gangguan penyesuaian, yaitu kesulitan beradaptasi yang memunculkan gejala cemas dan depresi.
Keempat, gangguan kecemasan, berupa kekhawatiran berlebihan atau fobia.
Kelima, gangguan mood, seperti depresi atau bipolar.
Keenam, gangguan jiwa berat dengan gejala psikotik, seperti halusinasi atau delusi pada penderita skizofrenia.
Baca juga: Keren! Mahasiswa UMS Menang Gold Medal YISF 2026 Berkat Aplikasi Deteksi Postur Tubuh Berbasis AI
Pada tahap terakhir, kondisi ini ditandai dengan sinyal listrik otak yang tidak ritmis akibat ketidakseimbangan neurotransmitter (dopamin dan serotonin), kerusakan jaringan otak, atau penggunaan zat tertentu.
“Gangguan seperti delusi memerlukan penanganan khusus. Hal ini dipengaruhi pengalaman masa lalu yang memicu tekanan, mengganggu energi otak, serta menyebabkan ketidaksinkronan antarbagian otak dalam berpikir dan berperilaku,” jelasnya.
Kepala Humas UMS, Dr. Budi Santoso, menyampaikan bahwa pengukuhan ini menjadikan UMS sebagai perguruan tinggi swasta dengan jumlah guru besar terbanyak di Jawa Tengah.
“Pengukuhan akan berlangsung pada Rabu, 29 April 2026. Semoga penambahan dua guru besar ini mampu mendorong perubahan positif, baik secara akademik maupun sosial,” pungkas Budi Santoso.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan