Selasa, 28 APRIL 2026 • 18:10 WIB

Program Koneksi Pererat Hubungan Indonesia-Australia di Bidang Pendidikan dan Riset

Author

Fauzan Adziman (Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Kemdiktisaintek), Pungkas Bahjuri Ali (Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Bappenas), Gita Kamath (Australian Deputy Ambassador to Indonesia) (Indozone/Salsabila Az Zahra)

INDOZONE.ID - Pemerintah Indonesia dan Australia memperkuat kolaborasi strategis dalam bidang pendidikan, riset, dan inovasi melalui ajang Knowledge and Innovation Exchange (KIE) Jakarta Summit.

Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi kedua negara untuk memastikan bahwa hasil penelitian tidak hanya berhenti sebagai dokumen akademis, tetapi bertransformasi menjadi kebijakan publik yang berdampak langsung bagi masyarakat. 

Baca juga: Tips Mendapatkan Responden Penelitian Skripsi Tanpa Ribet dan Tepat Sasaran

Program yang dikenal dengan nama "Koneksi" merupakan bentuk kemitraan yang mempertemukan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, hingga sektor industri.

Gita Kamath selaku Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, menegaskan bahwa hubungan kedua negara kini berada pada titik yang sangat erat, di mana pendidikan dan riset menjadi pilar utamanya.

“Kemitraan dalam sektor pendidikan, riset, dan inovasi antara Australia dengan Indonesia telah menghasilkan berbagai capaian yang signifikan,” ungkap Gita.

Ia menambahkan bahwa setiap tahun lebih dari 20 ribu pelajar dari mahasiswa Indonesia berhasil menempuh pendidikan di Australia. Di sisi lain, lebih dari 350 ribu mahasiswa Australia telah belajar dan magang di Indonesia.

Selain itu, Australia adalah salah satu mitra riset terbesar bagi Indonesia dengan catatan lebih dari 8.500 publikasi ilmiah bersama yang mencakup isu-isu krusial seperti energi terbarukan, ketahanan pangan, dan transformasi digital.

Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menjelaskan bahwa saat ini telah diprakarsai 38 kegiatan riset inovatif yang berfokus pada lingkungan hidup dan perubahan iklim.

Baca juga: Mahasiswa UMM Tembus Riset Semikonduktor Taiwan, Kembangkan Teknologi Prediksi Cacat Produksi

Beberapa contoh nyata riset kolaboratif meliputi pengembangan varietas padi yang tahan terhadap perubahan iklim hasil kerja sama Australian National University (ANU) dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), serta proyek penggabungan budidaya rumput laut dengan energi surya di Madura.

Selain itu, terdapat inovasi sistem pemantauan banjir rob berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk wilayah pesisir utara Jawa.

“Tujuan kita jelas, kita ingin membawa berbagai wawasan, temuan, dan solusi inovatif ke tingkat nasional. Kita ingin mengubah riset menjadi komitmen institusional dan kebijakan, serta produk nyata yang dapat memecahkan masalah di lapangan,” papar Fauzan.

Sementara itu, Wakil Menteri Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, menyatakan bahwa program Koneksi bukan hanya sekedar kerja sama, melainkan sebuah pembentukan suatu ekosistem yang mempertemukan pemerintah, industri, akademisi, komunitas, dan media.

“Inovasi itu diuji bukan oleh ide, tetapi oleh dampaknya bagi kehidupan nyata sehari-hari. Adanya program Koneksi bukan untuk berdiskusi semata, tapi untuk memastikan bahwa riset-riset yang dilakukan benar-benar hidup, bekerja, dan memberikan solusi untuk masyarakat,” jelasnya.

Bappenas memandang Koneksi bukan hanya sebagai program, tetapi juga sebagai bagian dari arsitektur pembangunan nasional yang berbasis penghetahuan. 

Baca juga: Mau Lanjut S1? Ini Daftar Universitas yang Ada Program Ekstensi D3 ke S1, Cocok untuk yang Ingin Upgrade Ijazah

Menurut Febrian, perencanaan pembangunan nasional tidak boleh berdiri di ruang kosong, melainkan harus berpijak pada bukti ilmiah dan data yang kuat.

Febrian mendorong para peneliti untuk beralih dari prinsip "riset untuk publikasi" menjadi "riset untuk dampak".

Koneksi dianggap bukan sekadar program rutin, melainkan sebuah investasi jangka panjang bagi kualitas berpikir bangsa.

Melalui kerja sama yang telah dibangun, diharapkan pengetahuan tidak hanya terkonsentrasi di pusat, tetapi juga menjangkau daerah agar tetap relevan dengan kebutuhan lokal.

Dengan memperkuat hubungan antara ilmuwan dan pembuat kebijakan, Indonesia dan Australia optimistis dapat menciptakan masa depan yang lebih hijau, inklusif, dan sejahtera bagi kedua negara.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU