INDOZONE.ID - Bagi banyak mahasiswa baru, kegiatan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK) atau yang kini dikenal sebagai Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), sering kali dikenal dengan kesan tegang, aturan ketat, dan sosok “galak” dari Komisi Disiplin (Komdis).
Padahal, kenyataannya kini sudah jauh berbeda. Peran Komdis justru lebih edukatif dan penting dalam membantu maba untuk beradaptasi dengan kehidupan kampus.
Baca juga: Kuliah Nggak Cuma soal Jurusan, Ini 7 Pengaruh Besar Akreditasi Kampus untuk Masa Depan Kariermu!
1. Komdis: Penegak Aturan, Bukan Sosok yang Menakutkan
Komdis pada dasarnya adalah divisi kepanitiaan yang bertugas menjaga ketertiban selama kegiatan PKKMB berlangsung.
Mereka memastikan seluruh peserta mengikuti aturan yang telah ditetapkan, seperti penggunaan atribut, kehadiran tepat waktu, hingga sikap selama acara.
Namun, perlu dipahami bahwa aturan ini bukan dibuat untuk menyulitkan maba, melainkan untuk melatih tanggung jawab.
Sistem perkuliahan berbeda dari sekolah. Mahasiswa dituntut mandiri dan mempunyai disiplin yang tinggi. Di sinilah Komdis berperan sebagai pengarah awal, agar maba tidak kaget saat menghadapi budaya akademik.
2. Pengatur Waktu yang Menjaga Alur Kegiatan
Selain menegakkan aturan, Komdis juga berperan sebagai timekeeper. Artinya, mereka memastikan setiap rangkaian acara berjalan sesuai jadwal (rundown).
Tanpa peran ini, kegiatan PKKMB bisa berantakan, molor, atau bahkan tidak efektif. Ketepatan waktu menjadi hal penting di dunia kampus, baik dalam perkuliahan, organisasi, maupun dunia kerja nantinya.
Jadi, ketika Komdis terlihat tegas soal waktu kepada maba, sebenarnya mereka sedang menanamkan kebiasaan profesional sejak dini.
3. Membentuk Mental dan Karakter Mahasiswa
Salah satu peran terpenting Komdis adalah membentuk mental mahasiswa baru. Mereka membantu maba belajar tentang tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, dan kedisiplinan.
Misalnya, ketika ada pelanggaran, Komdis tidak serta-merta menghukum secara fisik. Sebaliknya, sanksi yang diberikan biasanya bersifat edukatif, seperti membuat rangkuman materi, refleksi diri, atau tugas kelompok.
Tujuannya agar maba memahami kesalahan dan belajar memperbaikinya, bukan sekadar merasa takut.
4. Tegas Bukan Berarti Kasar
Stigma negatif terhadap Komdis umumnya berasal dari praktik lama yang sudah tidak relevan lagi. Saat ini, banyak kampus telah menegaskan bahwa kegiatan orientasi harus bebas dari kekerasan dan perpeloncoan.
Komdis memang dituntut untuk tegas, tetapi tetap dalam batas profesional dan manusiawi. Tegas berarti konsisten terhadap aturan, bukan membentak atau merendahkan.
Justru, jika melakukan pendekatan yang lebih edukatif, maba bisa memahami tujuan dari setiap aturan yang diterapkan.
Baca juga: Campus Tour IPB Ubah Waktu Tunggu UTBK Jadi Pengalaman Edukatif
5. Dampak Positif bagi Mahasiswa Baru
Keberadaan Komdis memberikan banyak manfaat yang mungkin tidak langsung terasa. Salah satunya adalah mengurangi sikap individualis.
Dalam kegiatan orientasi, maba sering diminta bekerja sama secara kelompok, sehingga tanpa disadari mereka telah belajar berkomunikasi dan saling membantu.
Selain itu, Komdis juga membantu menciptakan lingkungan yang kondusif dan aman. Dengan adanya aturan yang jelas dan pengawasan yang baik, kegiatan dapat berjalan lebih tertib dan nyaman untuk semua peserta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan