4 Fase Culture Shock Kuliah di Luar Negeri yang Kerap Dialami Mahasiswa Baru, Pernah Kamu Rasain?
INDOZONE.ID - Banyak mahasiswa memilih kuliah di luar negeri tidak hanya untuk mengejar gelar akademik, tetapi mendapatkan pengalaman hidup baru.
Namun, di balik pengalaman yang terlihat menyenangkan, tidak sedikit mahasiswa diaspora yang justru mengalami culture shock saat pertama kali tinggal dan belajar di luar negeri.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Pada 1960, seorang antropolog bernama Kalervo Oberg memperkenalkan konsep empat fase culture shock yang menggambarkan proses adaptasi seseorang ketika tinggal di lingkungan dan budaya baru.
Lalu, apa saja empat fase culture shock yang sering dialami mahasiswa diaspora saat mengenyam pendidikan di luar negeri?
Baca juga: Tak Direstui Pilih Jurusan Kuliah? Ini 5 Cara Meyakinkan Orang Tua Tanpa Ribut
4 Fase Culture Shock Kuliah Luar Negeri
1. Honeymoon Phase
Fase pertama adalah honeymoon phase atau masa euforia awal. Di fase ini, kamu masih merasa sangat excited dengan kehidupan dan suasana baru di luar negeri.
Hampir semua hal terasa seru dan membuat penasaran, mulai dari mencoba berbagai kuliner khas setempat, keliling kota, sampai menikmati suasana kampus yang sebelumnya cuma kamu lihat di media sosial atau film.
Banyak mahasiswa juga merasa seperti lagi liburan panjang. Sebab, semuanya masih terlihat menyenangkan dan belum terlalu merasakan tantangannya.
Biasanya, fase honeymoon berlangsung sekitar dua sampai empat pekan pertama setelah tiba di negara tujuan.
Baca juga: Calon Mahasiswa Wajib Tahu! Tidak Semua Jurusan Harus Ikut KKN
2. Frustration Phase
Setelah rasa excited perlahan memudar, biasanya kamu akan masuk ke frustration phase atau fase paling berat saat mengalami culture shock. Di tahap ini, rasa homesick akan menghantui dirimu dengan lebih intens.
Selain itu, kendala bahasa juga sering jadi tantangan besar. Kamu harus terus berkomunikasi menggunakan bahasa asing setiap hari, termasuk memahami berbagai ragam aksen lokal dan cara bicara yang berbeda.
Tidak sedikit mahasiswa merasa lelah secara mental karena harus terus beradaptasi dengan lingkungan yang masih terasa asing seperti itu.
Belum lagi kalau harus menghadapi cuaca ekstrem seperti musim dingin yang bisa memengaruhi kondisi fisik dan mood.
Baca juga: Delegasi Malaysia Curi Perhatian di ASFW 2026 UM Lewat Busana Futuristik Terinspirasi Saloma
3. Adjustment Phase
Di tahap ini, kamu mulai terbiasa dengan rutinitas sehari-hari di negara tempat kamu melanjutkan pendidikan.
Kamu sudah tahu rute transportasi umum, mulai paham sistem akademik kampus, sampai tahu tempat makan atau kebutuhan harian yang sesuai dengan budget.
Kemampuan bahasa di fase ini juga biasanya mulai meningkat. Sebab, telinga kamu sudah lebih terbiasa mendengar berbagai aksen masyarakat setempat.
Selain itu, kamu juga mulai punya circle pertemanan yang lebih nyaman, baik dengan sesama mahasiswa internasional maupun teman lokal.
Baca juga: UNNES Bekali 1.267 Mahasiswa KIP-K dan Afirmasi Melalui Pembinaan Inspiratif 2026
4. Acceptance Phase
Fase terakhir disebut acceptance phase atau fase penerimaan. Di tahap ini, kamu biasanya sudah merasa nyaman menjalani kehidupan sehari-hari, tanpa terus-menerus membandingkannya dengan kehidupan di Indonesia.
Kamu juga mulai merasa lebih aman, percaya diri, dan bebas mengekspresikan diri tanpa takut salah.
Meski begitu, acceptance phase bukan berarti kamu melupakan budaya asalmu. Justru di fase ini, kamu biasanya jadi lebih terbuka dan mampu menghargai perbedaan budaya dengan lebih dewasa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Augstudy.com