Riset Green Zakat Atasi Banjir Rob Pesisir, 2 Mahasiswa UIN Jakarta Tembus Konferensi Internasional
INDOZONE.ID - Dua mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, berhasil tampil sebagai presenter dalam konferensi ilmiah internasional Muktamar Turost Nabawi (MUTUN) yang diselenggarakan oleh Ma’had Aly Tebuireng pada Desember 2025.
Dalam forum yang diikuti akademisi dari berbagai negara tersebut, keduanya sukses mempresentasikan riset mengenai konsep Green Zakat sebagai solusi penanganan banjir rob di wilayah pesisir Demak.
Mahasiswa tersebut adalah Muhammad Arsyad Fadhilaturrahman dan Nabiilah Ar Rasyidah, yang saat ini duduk di semester enam Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Jakarta.
Konferensi internasional itu mengangkat tema Eco-Sunnah and the Global Ecological Crisis: Formulating Islam’s Contribution Through Hadis and Sustainability Development Agenda (SDGs), yang dihadiri peserta dari berbagai negara seperti Indonesia, Pakistan, Sudan, hingga Malaysia.
Baca juga: Mau Kerja di Industri Kecantikan? Kenali Jurusan Rekayasa Kosmetik dan Prospek Kerjanya
Melalui forum tersebut, mereka berdua mencoba menghadirkan perspektif baru mengenai studi Islam dengan mengaitkan ilmu keislaman terhadap isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Arsyad menjelaskan bahwa motivasi utama mereka mengikuti konferensi tersebut adalah untuk menunjukkan bahwa kajian Islam memiliki keterkaitan erat dengan persoalan sosial dan lingkungan yang terjadi saat ini.
"Kami ingin menghidupkan integrasi antara ilmu terapan dengan ilmu agama yang selama ini sering dianggap tidak memiliki titik temu. Kami melihat bahwa Islamic Studies memiliki peluang besar untuk menunjang penelitian yang menjawab persoalan masyarakat secara sistematis berbasis pemikiran Islam," tuturnya.
Mereka menilai instrumen zakat berbasis lingkungan dapat menjadi salah satu solusi pendanaan berkelanjutan, di tengah besarnya biaya pembangunan infrastruktur penanggulangan rob di wilayah tersebut.
Baca juga: Unesa Rayakan Festival Kebangsaan dengan Harmoni Musik, Hadirkan Slank hingga Once Mekel
Sementara itu, Nabiilah mengungkapkan bahwa latar belakang pendidikan pesantren dan kurikulum FDI yang berafiliasi dengan Al-Azhar Kairo menjadi modal penting dalam proses pengembangan riset mereka.
Menurutnya, pengalaman mengikuti konferensi tersebut juga memberikan banyak pembelajaran, terutama dalam membangun argumen ilmiah secara logis dan sistematis.
"Melalui konferensi ini, kami belajar menyusun argumen yang runut dan logis. Kemampuan menulis ilmiah ini sangat membantu tugas kuliah dan membuka peluang karier baru sebagai peneliti di bidang Islamic Studies yang mampu mengintegrasikan Islam dengan isu keberlanjutan global," ucapnya.
Proses penyusunan ide mereka memakan waktu sekitar dua bulan, mulai dari pengkajian literatur, pengiriman abstrak, hingga penyempurnaan naskah akhir.
Baca juga: Mahasiswa ITS Ciptakan ITSafe, Sistem Digital untuk Lawan Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus
Meski menghadapi berbagai tantangan seperti keterbatasan akses bimbingan dan kendala bahasa saat berdiskusi dengan peserta dari negara lain, keduanya tetap mampu menyelesaikan proses penelitian dengan memanfaatkan berbagai referensi dari Perpustakaan Umum yang tersedia di UIN Jakarta.
Atas pencapaian tersebut, pihak fakultas turut memberikan respons positif dengan membentuk wadah pengembangan kepenulisan dan penelitian ilmiah mahasiswa bernama MIDRAS.
Di akhir sesi, Arsyad dan Nabiilah juga mengajak mahasiswa, khususnya yang berasal dari latar belakang pesantren, agar tidak ragu untuk terjun ke dunia riset dan konferensi internasional berbasis akademik.
Menurut mereka, konferensi ilmiah dapat menjadi salah satu jalan bagi mahasiswa untuk memperkenalkan perspektif Islam secara ilmiah sekaligus memperluas peluang karier di bidang akademik dan penelitian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Biroaakk.uinjkt.ac.id