Selasa, 19 MEI 2026 • 14:00 WIB

Belajar Moderasi Beragama, 128 Mahasiswa UIN Jakarta Jelajahi Katedral dan Istiqlal Lewat Kunjungan Religi

Author

128 mahasiswa program studi Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berkunjung ke Gereja Katedral Jakarta dan Masjid Istiqlal. (uinjkt.ac.id)

INDOZONE.ID - Sebanyak 128 mahasiswa Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengikuti kunjungan edukatif ke Gereja Katedral Jakarta dan Masjid Istiqlal pada 12 Mei 2026.

Kegiatan yang merupakan bagian dari mata kuliah Jaringan Intelektual Ciputat itu digelar untuk memahami sejarah hingga praktik toleransi secara langsung di tengah masyarakat Indonesia yang beragam.

Kunjungan tersebut melibatkan mahasiswa semester dua dari tiga kelas berbeda. Selama berada di Gereja Katedral, mereka mendapat penjelasan mengenai sejarah perkembangan agama Kristen di Indonesia, koleksi benda liturgi, hingga keterkaitan Gereja Katedral dengan perjalanan sejarah Indonesia yang panjang.

Mahasiswa juga diajak mengunjungi Museum Katedral yang dipandu langsung oleh petugas museum bernama Lily. Dalam sesi tersebut, mereka diperkenalkan dengan berbagai koleksi dan struktur museum yang menyimpan jejak sejarah Gereja Katolik di Indonesia.

Baca juga: Berawal dari Tugas Kuliah, Platform Simulasi Interview Berbasis AI Ciptaan Mahasiswa UM Kini Tembus Google

Guru Besar Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta, Prof. Jajang Jahroni, M.A., Ph.D., mengatakan bahwa ruang-ruang publik seperti Gereja Katedral, Masjid Istiqlal, hingga Terowongan Silaturahmi merupakan tempat penting untuk memahami keberagaman masyarakat Indonesia secara langsung.

Menurutnya, pembelajaran sejarah tidak cukup hanya dilakukan melalui buku dan teori di kelas. Mahasiswa juga perlu melihat langsung bagaimana relasi antaragama dan praktik toleransi berlangsung dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Mahasiswa tidak cukup hanya membaca sejarah dari buku. Mereka perlu hadir langsung menyaksikan bagaimana toleransi dan relasi antar agama dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Hal serupa juga disampaikan dosen Fakultas Adab dan Humaniora, Tati Rohayati, M.Hum. Ia menilai kegiatan lapangan seperti ini menjadi bagian penting dari pembelajaran sejarah yang lebih kontekstual dan reflektif.

Baca juga: Mahasiswa UNS Latih Warga Klaten Bikin Sabun Alami Dari Daun Pandan dan Jeruk Nipis

Mahasiswa SPI harus melihat langsung bagaimana sejarah, agama, dan toleransi hidup dalam ruang sosial masyarakat Indonesia. Kunjungan ini menjadi cara untuk membangun pemahaman yang lebih terbuka, kritis, dan humanis,” ujarnya.

Selain mengunjungi Gereja Katedral, mahasiswa juga diajak melihat Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Gereja Katedral dengan Masjid Istiqlal.

Terowongan tersebut dijelaskan sebagai simbol hubungan harmonis antarumat beragama di Indonesia.

Kegiatan kemudian dilanjutkan ke Masjid Istiqlal sebagai bagian dari pembelajaran mengenai ruang dialog lintas budaya dan agama di Indonesia.

Baca juga: 7 Rekomendasi Buku yang Cocok Dibaca Mahasiswa Baru, Bantu Upgrade Diri dan Pola Pikir

Salah satu mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora, Fauzan, mengaku mendapatkan pengalaman baru melalui kegiatan tersebut.

Kegiatan ini menjadi pengalaman berharga karena kami belajar Islam, sejarah, dan toleransi tidak hanya di bangku kelas, tetapi juga langsung merasakannya di lapangan,” tuturnya.

Melalui kunjungan ini, pihak kampus berharap mahasiswa dapat memiliki wawasan kebangsaan yang lebih luas, memperkuat moderasi beragama, serta menumbuhkan sikap toleran dalam kehidupan bermasyarakat secara langsung.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Uinjkt.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU