INDOZONE.ID - Pendidikan merupakan salah satu aspek fundamental dalam kehidupan manusia. Bagaimana sebuah karakter serta kualitas diri manusia dapat terbentuk dan dibentuk.
Pendidikan adalah proses pembelajaran yang dibutuhkan manusia untuk mengarahkan, membimbing, memperbaiki, dan mengembangkan potensi dirinya.
Pendidikan memberikan kemampuan dasar pada setiap individu dalam mengembangkan kehidupannya, baik sebagai pribadi, dan kelompok. Baik dari segi fisik, moral, sikap, dan nilai guna untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan hidupnya.
Baca juga: Teori Konstruktivisme dalam Dunia Pendidikan: Definisi, Tahapan, dan Manfaatnya
Karena cakupannya yang begitu luas, tidak mengherankan jika para ahli dari berbagai zaman memiliki dan latar belakang keilmuan memberikan perspektif yang bergam mengenai definisi pendidikan itu sendiri.
Perbedaan ini bukan berarti saling bertentangan, melainkan saling melengkapi dalam menggambarkan hakikat pendidikan secara utuh.
Pengertian Pendidikan
Secara etimologis, istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani "paedagogie", gabungan dari kata "paes" yang berarti anak dan "agogos" yang berarti membimbing.
Dengan demikian, secara harfiah pendidikan dapat dipahami sebagai bimbingan yang diberikan kepada anak agar tumbuh dan berkembang.
Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan pendidikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam upaya mendewasakan manusia, yang dilakukan melalui pengajaran maupun pelatihan.
Definisi ini menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pada perubahan perilaku menuju kedewasaan.
Dari sisi kebijakan dan payung hukum, Indonesia memiliki rumusan resmi mengenai pendidikan yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Dalam undang-undang tersebut, pendidikan dirumuskan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran.
Agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Rumusan ini penting karena menjadi acuan formal penyelenggaraan pendidikan di seluruh jenjang, mulai dari tingkat nasional hingga operasional di kelas.
Pendidikan Menurut Ki Hadjar Dewantara
Sebagai Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara memandang pendidikan sebagai upaya untuk memajukan pertumbuhan budi pekerti atau kekuatan batin dan karakter, pikiran, serta tubuh anak.
Baginya, pendidikan tidak boleh berhenti pada aspek akademis semata, melainkan harus menyentuh pembentukan moral dan karakter secara menyeluruh. Pendidikan memiliki peran penting dalam meningkatkan kecerdasan bangsa dan membawa masyarakat menuju zaman pencerahan
Ia merumuskan tiga tujuan utama pendidikan, yaitu membentuk budi pekerti yang halus, meningkatkan kecerdasan pikiran, dan mewujudkan kesehatan jasmani.
Filosofi ini tercermin dalam semboyannya yang terkenal tentang peran pendidik sebagai teladan di depan, pembangkit semangat di tengah, dan pendorong di belakang peserta didik.
Ki Hajar Dewantara juga menekankan bahwa pendidikan merupakan usaha untuk mewariskan nilai-nilai kebudayaan kepada generasi baru, bukan sekadar memelihara, tetapi juga memajukan dan mengembangkan kebudayaan tersebut menuju keselarasan hidup kemanusiaan.
Pendidikan bisa menjadi alat untuk mengembangkan keterampilan dan membentuk karakter serta budaya yang mulia bagi bangsa dengan tujuan meningkatkan kecerdasan dan kemajuan hidup masyarakat.
Ini berarti mengembangkan potensi individu agar menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, berakhlak baik, sehat, berpengetahuan, terampil, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab baik bagi dirinya maupun negaranya.
Pengertian Pendidikan Menurut Pakar Dunia
Aristoteles
Aristoteles memandang pendidikan sebagai salah satu fungsi utama negara yang diselenggarakan demi kepentingan negara itu sendiri.
Menurutnya, pendidikan adalah bekal persiapan bagi individu untuk menjalani pekerjaan yang layak, dan penyelenggaraannya semestinya mengikuti hasil analisis psikologis serta tahapan perkembangan fisik dan mental manusia secara bertahap.
Plato
Plato memiliki pandangan yang lebih menekankan pada pengembangan individu secara menyeluruh. Baginya, pendidikan adalah sarana yang membantu perkembangan diri seseorang, mulai dari aspek jasmani hingga kemampuan akal budi.
John Dewey
John Dewey, filsuf pendidikan asal Amerika Serikat, memandang pendidikan sebagai proses pembaruan makna pengalaman yang berlangsung dalam pergaulan sosial, melibatkan pengawasan dan bimbingan dari orang dewasa maupun kelompok tempat individu itu hidup.
Bagi Dewey, pengalaman adalah inti dari pendidikan, proses belajar pada hakikatnya adalah usaha berkelanjutan untuk menyusun ulang dan mengolah pengalaman hidup peserta didik.
Pandangan ini menempatkan pendidikan sebagai proses yang dinamis dan tidak pernah benar-benar selesai, karena manusia terus mengalami pertumbuhan intelektual dan emosional sepanjang hidupnya.
Oemar Hamalik
Oemar Hamalik memandang pendidikan sebagai suatu proses yang berorientasi pada tujuan tertentu, yakni membentuk tingkah laku peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Menurutnya, pendidikan berperan penting dalam mengubah perilaku individu, baik dari segi pengetahuan, sikap, maupun keterampilan, sehingga tercapai perkembangan pribadi yang lebih baik dan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.
Ahmad D. Marimba
Ahmad D. Marimba mendefinisikan pendidikan sebagai bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik, menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
Definisi ini menekankan adanya unsur kesadaran dan kesengajaan dalam proses pendidikan, sekaligus menegaskan bahwa hasil akhir yang diharapkan adalah terbentuknya kepribadian yang utuh dan berkarakter.
Redja Mudyahardjo
Redja Mudyahardjo membagi pengertian pendidikan menjadi tiga cakupan, yaitu makna luas, sempit, dan alternatif. Dalam pengertian luas, pendidikan dipandang sebagai segala pengalaman hidup yang berlangsung sepanjang usia.
Dalam arti sempit, pendidikan dipahami sebagai pengajaran yang berlangsung di sekolah sebagai lembaga formal. Sementara dalam makna alternatif, pendidikan dilihat sebagai upaya sadar yang dirancang untuk membantu perkembangan potensi peserta didik secara optimal.
Esensi Pendidikan
Pendidikan berlangsung sepanjang hayat dan melibatkan tiga dimensi utama, pengembangan intelektual atau kecerdasan, pembentukan karakter atau budi pekerti, serta pertumbuhan fisik dan mental secara seimbang.
Baca juga: Kenali Kapita Selekta, Mata Kuliah yang Pasti Ada di Tingkat Perkuliahan
Selain itu, hampir semua ahli sepakat bahwa pendidikan tidak berdiri sendiri, melainkan melibatkan interaksi antara individu dengan lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitarnya.
Esensi ini menegaskan bahwa pendidikan sejatinya adalah proses mengembangkan potensi diri secara menyeluruh, agar setiap individu mampu menjadi pribadi yang merdeka secara pikiran, memiliki karakter yang kuat, dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat serta bangsanya.
Keberagaman perspektif ini justru memperkaya pemahaman kita bahwa pendidikan bukan konsep tunggal, melainkan proses multidimensi yang terus relevan untuk dikaji, terutama bagi mahasiswa keguruan dan siapa pun yang ingin memahami hakikat pendidikan secara lebih mendalam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Nasional, Ruang Guru