INDOZONE.ID - Dedikasi di dunia kedokteran sering kali lahir dari titik balik kehidupan yang mendalam. Hal ini yang melandasi karier Prof (HCUA) Nicolaas C. Budhiparama dr PhD SpOT(K) FICS.
Penerima Habibie Prize 2021 yang juga menyandang gelar Guru Besar Kehormatan Universitas Airlangga (UNAIR) itu, telah mendapatkan pengakuan global atas dedikasinya di bidang ortopedi.
Dari Sirkuit Balap ke Ortopedi
Sebelum dikenal sebagai ahli bedah ortopedi terkemuka dunia, Prof Nicolaas muda merupakan pembalap Formula 3000 di Eropa. Kecelakaan serius di Jerman yang memaksanya masuk ICU, menjadi titik balik besar dalam hidupnya.
“Pada masa itu, ketika perkembangan medis belum semaju sekarang, saya sempat diliputi kekhawatiran mendalam apakah saya masih bisa hidup normal atau harus menghadapi kecacatan permanen,” kenang Prof Nicolaas.
Baca juga: Kiprah Asiano Mapilindo, Alumnus Vokasi UNAIR yang Dirikan Seno Dental Lab
Titik kritis itu melahirkan janji tulus kepada ibunya untuk bangkit, lalu membantu sesama setelah pulih dari cederanya.
“Di tengah pemulihan, saya berjanji kepada ibu jika diberikan kesembuhan, saya akan mengabdikan hidup membantu sesama memperoleh kembali kemampuan bergerak dan berjalan secara bermartabat sebagai jalan pengabdian,” ungkapnya.
Kini, dedikasi tersebut diakui secara global hingga dirinya dipercaya menjadi International President Asia-Pacific Orthopaedic Association (APOA) yang menaungi 66.000 anggota. Ia juga masuk dalam jajaran kepengurusan American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS).
Tangani Atlet Berkelas Dunia
Kiprah nyata Prof Nicolaas itu juga dirasakan dunia olahraga nasional sebagai tim medis yang mengawal fisik atlet elite untuk timnas cabor bulu tangkis, renang, dan berbagai olahraga lainnya.
Menangani cedera atlet kelas dunia menuntutnya menerapkan evidence-based medicine yang sangat personal, agar mereka bisa kembali berlaga secara aman. Terkait kunci menembus panggung global, ia menekankan pentingnya pembuktian karya lewat riset.
“Bagaimana orang lain mengenali kemampuan kita apabila kita tidak pernah menunjukkannya? Salah satu kontribusi nyata dalam dunia akademik adalah publikasi ilmiah guna memperoleh pengakuan internasional. Publikasi ilmiah adalah panggung dunia Anda,” tegas anggota dewan redaksi berbagai jurnal ortopedi dunia itu.
Inovasi Teknologi Medis dan Kontribusi untuk UNAIR
Di ranah inovasi medis, Prof Nicolaas dikenal sebagai salah satu pelopor penerapan teknologi robotik untuk bedah ortopedi di Indonesia. Ia juga aktif mengembangkan dan mengedukasi pemanfaatan robotic-assisted surgery melalui berbagai kolaborasi internasional.
Meski integrasi teknologi dalam medis menawarkan presisi tinggi, ia mengingatkan agar para dokter tidak melupakan prinsip dasar medis.
“Penguasaan ilmu dasar, keterampilan klinis, dan teknik konvensional harus tetap menjadi fondasi. Teknologi pada hakikatnya merupakan instrumen pendukung keputusan, bukan pengganti kompetensi seorang dokter,” tuturnya.
Ia juga bersikap kritis terhadap tren terapi orthobiologics seperti PRP dan stem cell pada kasus osteoartritis yang belum memiliki bukti ilmiah konsisten.
Sinergi kepakaran kritis inilah yang beliau bawa ke UNAIR dengan memfasilitasi riset klinis, mengusulkan pusat keunggulan bedah robotik, hingga menginisiasi jejaring alumni global guna mencetak lulusan yang kompetitif di tingkat dunia.
Kepada para Ksatria Airlangga, ia berpesan untuk memiliki karakter kuat dan berani mendobrak batas.
“Jangan pernah ragu memiliki cita-cita tinggi yang diwujudkan lewat kerja keras dan integritas. Saya meyakini kapasitas intelektual generasi muda Indonesia tidak kalah dengan bangsa mana pun, dan dengan karakter kuat, saya optimistis mereka mampu menjadi pemimpin yang berkiprah di tingkat global,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Humas Unair