Potret mahasiswa KKN PPM dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 2024 (sumber: uga.ac.id)
INDOZONE.ID - KKN (Kuliah Kerja Nyata) adalah program unik di kampus Indonesia. Mahasiswa tinggal di desa atau komunitas, membantu warga sambil belajar dari masyarakat. UGM jadi pelopor program ini sejak era 1970-an. Tujuannya menyatukan ilmu kampus dengan kebutuhan riil rakyat.
Awalnya, tahun 1951, UGM punya program bernama PTM (Pengerahan Tenaga Mahasiswa). Mahasiswa dikirim jadi guru atau basmi buta huruf. Program ini berhenti tahun 1962. Sepuluh tahun kemudian, muncul ide baru yang lebih menyeluruh yaitu KKN.
Tahun 1971, UGM bersama Universitas Andalas dan Hasanuddin uji coba program baru. Mereka menyebutnya "Pengabdian Mahasiswa kepada Masyarakat". Mahasiswa tidak hanya mengajar, tapi juga bantu tangani masalah ekonomi dan sosial warga desa.
Nama "Kuliah Kerja Nyata" (KKN) resmi dipakai tahun 1973. UGM menjadi koordinator pertama untuk wilayah Indonesia Tengah. Pada tahun 1973/1974, 13 universitas negeri ikut melaksanakan KKN angkatan pertama.
UGM serius menjadikan KKN bagian penting pendidikan. Tahun 1976, Rektor mengeluarkan aturan KKN menjadi mata kuliah wajib bagi semua mahasiswa S1. Artinya, mahasiswa UGM harus ikut KKN untuk bisa lulus.
Jumlah peserta membengkak! UGM pun inovatif. Tahun 1977, mereka membuat "KKN Kampus" bagi mahasiswa yang belum bisa ke desa. Mereka belajar teori pemberdayaan masyarakat di kampus dulu.
KKN UGM makin meluas. Tahun 1980-an, diadakan 2–3 angkatan per tahun. Tahun 1990, KKN UGM pertama kali menjangkau luar Jawa, seperti Lampung dan Kalimantan Selatan. Mahasiswa UGM mulai tersebar membantu desa-desa di berbagai pelosok.
Era Reformasi 1998 jadi ujian berat. Gubernur Jawa Tengah melarang KKN karena situasi politik tidak aman. Tapi, kolaborasi khusus "KKN Terpadu AMD" (gabungan dengan program TNI) masih berjalan. Program ini menjadi pintu munculnya model KKN tematik.
Tahun 1999, UGM mulai melakukan uji coba "KKN Alternatif". Mahasiswa yang sudah aktif di proyek pengabdian di kampus bisa konversi nilai setara KKN. Tahun 2001, model ini resmi bernama "KKN Tematik". Fokus pada tema spesifik, seperti informasi atau ekonomi warga.
KKN Tematik berkembang menjadi "KKN Tematik Kontekstual" pada tahun 2005. Mahasiswa tidak hanya membawa tema, tapi juga menyesuaikan dengan masalah unik di lokasi. Pendekatannya menjadi lebih fleksibel dan partisipatif, melibatkan warga sejak perencanaannya.
Tahun 2015, KKN UGM masuk ke daerah terpencil dan perbatasan, seperti Sabang, Miangas, dan Papua. Kerja sama dengan pemerintah daerah dan alumni (Kagama) diperkuat. KKN benar-benar menjangkau ujung Indonesia.
Baca juga: Bawa Misi Ketahanan Pangan, KKN UGM Siap Panen Padi Gamagora di Pulau Enggano
Mahasiswa mulai mempertanyakan KKN. Tahun 1999, polling BEM UGM menunjukkan 41,8% mahasiswa melihat penyimpangan dalam KKN. Sebanyak 54,5% merasa bahwa masyarakat tak butuh KKN lagi. Mereka meminta KKN menjadi mata kuliah pilihan, bukan wajib.
Kasus-kasus negatif muncul, seperti pada tahun 1997. Mahasiswa KKN di Gunungkidul dilaporkan kesulitan membantu warga dalam mengurus akta karena ada pungli. Mahasiswa merasa jadi "Sinterklas" yang datang sebentar, bukan agen perubahan sejati.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Doi.org