Kategori Berita
KANAL
REGIONAL
Rabu, 06 AGUSTUS 2025 • 12:07 WIB

2 Dokter UB Balik ke Indonesia Usai Jalani Misi Kemanusiaan di Gaza Selama 3 Pekan

2 Dokter UB Balik ke Indonesia Usai Jalani Misi Kemanusiaan di Gaza Selama 3 Pekandr. Kuntadi dan dr. Ristiawan berfoto bersama relawan dari Rahmah Foundation (prasetya.ub.ac.id)

INDOZONE.ID - Sebanyak dua dokter dari Universitas Brawijaya (UB) kembali ke Tanah Air, setelah tiga pekan menjalankan misi kemanusiaan di Gaza, Palestina.

Mereka adalah dr. Mohammad Kuntadi Syamsul Hidayat dan dr. Ristiawan Muji Laksono. Kembalinya mereka ke Indonesia tidak hanya membawa pengalaman medis, tapi juga cerita tentang kemanusiaan.

Mereka tergabung dalam tim relawan Bulan Sabit Merah Indonesia, yang berkolaborasi dengan Rahmah Worldwide. Mereka menyaksikan secara langsung kondisi di tengah konflik, seperti kelaparan, kehancuran, hingga trauma. 

Baca juga: Waspada Ilusi Toxic Positivity di Lingkungan Kampus, Ketika Motivasi Menjadi Racun Mahasiswa

Representasi Kemanusiaan dan Keberpihakan Ilmu Pengetahuan

Pulangnya dua dokter UB disambut haru. Bukan hanya kembalinya mereka ke tanah air, melainkan juga sebagai representasi kemanusiaan, serta keberpihakan ilmu pengetahuan terhadap kehidupan nyata. 

Berangkatnya dua dokter tersebut, tidak lepas karena kesadaran tanggung jawab moral sebagai tenaga medis. Bagi mereka, memiliki kemampuan untuk menolong adalah sebuah keharusan, bahkan diam pun bukan sebuah pilihan.

“Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Di Gaza, bahkan jika tidak bisa membantu secara medis, kehadiran pun bisa saja menjadi penghibur bagi mereka yang kehilangan.” terang dr. Mohammad Kuntadi.

Baca juga: Pengertian Novelty Penelitian untuk Skripsi dan Cara Menentukannya dengan Benar dan Tepat

Pengalaman Emosional Tak Terlupakan

Pengalaman selama di Gaza sangat berarti bagi Kuntadi. Ia mengungkapkan, hampir 40 tahun menjadi dokter, hampir tidak pernah melihat situasi seperti di Gaza. Kondisi anak-anak tergeletak di lantai dan dipenuhi darah, hingga kebutuhan nutrisi yang hampir tidak ada. 

Salah satu momen tak terlupakan yaitu ketika menangani salah satu seorang anak perempuan, bahkan belum dua tahun, bersimbah darah karena terkena peluru.

Dr. Ristawan juga memberikan gambaran situasi di sana. Ia menerangkan, bahwa Gaza sangat penuh keprihatinan. Fasilitas ruang perawatan bahkan melonjak hingga 250 perawatan dari normalnya. 

Berbagai bangunan dan fasilitas kesehatan rusak, akibat serangan bom. Kondisi ini membuat banyak pasien harus dirawat di tenda. 

“Obat kurang, air bersih terbatas, fasilitas rusak, dan risiko keamanan tinggi. Standar medis yang biasa kami jalankan tak bisa diterapkan sepenuhnya. Banyak prosedur harus dilakukan dengan alat seadanya, bahkan menggunakan obat-obatan lama yang sudah jarang dipakai, tentu ini menjadi tantangannya,” ujar dr. Ristiawan.

Baca juga: 5 Rekomendasi AI yang Bisa Bantu Buat Tugas Ospek Mahasiswa, Lebih Mudah dan Efisien

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Prasetya.ub.ac.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

2 Dokter UB Balik ke Indonesia Usai Jalani Misi Kemanusiaan di Gaza Selama 3 Pekan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!