Kategori Berita
KANAL
REGIONAL
Rabu, 06 AGUSTUS 2025 • 20:46 WIB

ICOCAS 2025 Hari Pertama: FIB Undip Jadi Tuan Rumah Seminar Internasional Bahas Peran Humaniora di Dunia Global

ICOCAS 2025 Hari Pertama: FIB Undip Jadi Tuan Rumah Seminar Internasional Bahas Peran Humaniora di Dunia GlobalICOCAS 2025 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro. (Foto: ZCreators @Aulia Faradiva)

INDOZONE.ID - Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (FIB Undip) kembali mencuri perhatian lewat gelaran bergengsi berskala internasional, The 3rd International Conference on Culture and Sustainable Development (ICOCAS) 2025.

Acara yang digelar pada 6–7 Agustus 2025 ini dibuka secara luring di Hotel Aruss Semarang dan disiarkan daring lewat Zoom Meeting, bikin peserta dari berbagai penjuru dunia bisa ikut nimbrung.

Dengan tema besar “The Role of the Humanities in Responding to the Challenges of a Globalized World”, konferensi ini jadi tempat berkumpulnya para akademisi, peneliti, praktisi, dan mahasiswa dari berbagai negara.

Tujuannya? Bareng-bareng ngobrolin pentingnya ilmu humaniora di tengah dunia global yang makin kompleks.

Baca juga: Future Leader Fellowship Chapter Diponegoro 2025: Siapkan Calon Pemimpin Bangsa dari Kampus

Sambutan Hangat dari Petinggi Kampus

Acara dibuka dengan sambutan dari Dekan FIB Undip, Prof. Dr. Alamsyah, M.Hum. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa ICOCAS 2025 adalah bagian dari upaya menjadikan FIB Undip sebagai fakultas bertaraf internasional.

Ia berharap acara ini bisa menginspirasi dunia pendidikan, terutama dalam bidang kebudayaan dan humaniora.

Setelah itu, giliran Direktur Reputasi, Kemitraan, dan Konektivitas Global (RKKG) Undip, Prof. Dr. Ir. Hadiyanto, S.T., M.Sc., yang hadir mewakili Rektor Undip, membuka acara secara resmi.

Ia berharap konferensi ini menjadi ajang untuk menjalin koneksi dan bertukar wawasan antar peserta dan pembicara dari berbagai belahan dunia.

Pembicara Internasional Angkat Isu Kritis dan Inspiratif

Hari pertama ICOCAS 2025 FIB UNDIP menghadirkan lima pembicara keren dari berbagai negara dengan latar belakang keilmuan yang beragam.

1. Assoc. Prof. Sylvia Tiwon, Ph.D., dari University of California, Berkeley membuka sesi dengan membedah pemikiran Kartini dalam topik “To Semarang! Breaking the chain of patriarchy, racism and colonialism in Kartini’s rhetoric.” Beliau mengangkat wacana Kartini sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan sosial.

2. Dr. habil. Timo Duile dari University of Bonn, Jerman, membawakan tema “Kuntilanak. A ghost that makes society.” Ia menjelaskan bagaimana sosok hantu lokal seperti kuntilanak bisa mencerminkan dinamika sosial dan budaya masyarakat Indonesia.

3. Assoc. Prof. Vitor Teixeira, dari Fernando Pessoa University, Portugal, memaparkan “Key Themes in the History of Portuguese-Indonesian Relations”. Ia menyoroti hubungan sejarah antara Indonesia dan Portugal, termasuk pengaruh budaya dan politik dari masa ke masa.

4. Charlotte Setijadi, Ph.D., dari University of Melbourne, membahas politik identitas Tionghoa di Indonesia dalam topik “Memories of Unbelonging: Ethnic Chinese Identity Politics in Post-Suharto Indonesia.” Materi ini mengajak kita memahami sisi lain dari perjalanan masyarakat Tionghoa pasca-reformasi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

ICOCAS 2025 Hari Pertama: FIB Undip Jadi Tuan Rumah Seminar Internasional Bahas Peran Humaniora di Dunia Global

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!