Kategori Berita
KANAL
REGIONAL
Sabtu, 13 SEPTEMBER 2025 • 11:00 WIB

Toxic Productivity: Ketika Produktif Jadi Racun buat Mahasiswa!

Toxic Productivity: Ketika Produktif Jadi Racun buat Mahasiswa!Ilustrasi Toxic Productivity (freepik.com)

INDOZONE.ID - Tren hustle culture belakangan ini bikin banyak anak muda, terutama mahasiswa, merasa harus selalu sibuk, aktif, dan produktif. Mulai dari kuliah, organisasi, kepanitiaan, sampai pekerjaan sampingan, semua dikejar. 

Namun, pernah gak sih kamu ngerasa capek terus meski sudah istirahat cukup? Atau, malah merasa bersalah kalau sehari gak ngapa-ngapain? 

Baca juga: 6 Tips Metode Belajar Efektif untuk si Mahasiswa Pelupa!

Hati-hati, bisa jadi itu tanda kamu terjebak dalam yang namanya “Toxic Productivity”.

Fenomena ini menggambarkan kebiasaan maksain diri untuk terus bekerja tanpa henti. Bukan sekadar soal rajin atau kerja keras, toxic productivity muncul ketika seseorang merasa “bernilai” hanya kalau dirinya sedang produktif. 

Alih-alih bahagia, kondisi ini justru memicu stres, burnout, bahkan bikin seseorang gak pernah puas dengan pencapaiannya sendiri.

Tanda-Tanda Toxic Productivity

  • Selalu merasa bersalah kalau lagi istirahat;
  • Pencapaian diri terasa gak pernah cukup;
  • Memaksa diri bekerja melampaui batas kemampuan.

Kalau tiga hal ini sering kamu alami, besar kemungkinan kamu sedang berada di lingkaran toxic productivity.

Mahasiswa dan Budaya Sibuk

Bagi mahasiswa, fenomena ini terasa nyata banget. Jadwal kuliah yang padat, tugas menumpuk, rapat organisasi hingga larut malam, ditambah kegiatan kepanitiaan dan side hustle, bikin banyak orang ngerasa harus terus bergerak.

Budaya pamer kesibukan di media sosial juga ikut memperparah keadaan. Banyak yang akhirnya takut tertinggal dan terlihat santai, karena sibuk dianggap lebih keren. 

Padahal, produktif tanpa memberi ruang untuk istirahat, justru bisa menurunkan performa. Tubuh dan pikiran kita butuh jeda supaya bisa kembali fokus.

Cara Lepas dari Lingkaran Toxic Productivity

Meski kelihatannya sulit, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba untuk keluar dari lingkaran toxic productivity

  • Nikmati momen sekarang artinya kamu harus fokus pada perjalanan, bukan hanya hasil akhir;
  • Tentukan prioritas harian, coba tentukan tiga hal utama dan penting untuk diselesaikan dalam sehari, jangan fokus ke semua hal tapi fokus ke yang lebih kamu prioritaskan dulu;
  • Belajar berbagi tugas. Jangan ragu buat minta bantuan atau mendelegasikan pekerjaan supaya gak kewalahan dan belajar percaya sama orang lain juga perlu biar kamu gak ngerasa sendiri.

Dengan langkah-langkah ini, produktivitas bisa tetap berjalan tanpa harus mengorbankan kesehatan mental dan fisik.

Baca juga: Jauh dari Keluarga Bikin Down? 5 Tips Cara Menghadapi Homesick Saat Merantau Kuliah

Produktif itu penting, tapi jangan sampai berubah jadi racun buat diri sendiri. Mahasiswa justru perlu menyeimbangkan kerja keras dengan istirahat serta waktu untuk menikmati hidup. Nah, apa kamu punya cara yang lain untuk mencegah Toxic Productivity?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Instagram/@labirinperubahan

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Toxic Productivity: Ketika Produktif Jadi Racun buat Mahasiswa!

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!