INDOZONE.ID - Mahasiswa Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB), A. Zaky Aditya dan Wenny Yusvicka, berhasil menorah prestasi gemilang tingkat nasional.
Tergabung dalam tim bernama "TIMah Primer", mereka dinobatkaan sebagai salah satu penerima pendanaan riset dalam ajang Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) Student Research Funding 2025.
Baca juga: Riset Harvard: One Piece Lebih Berpengaruh bagi Gen Z Dibanding Pelajaran di Sekolah
Penelitian yang diangkat berfokus pada evolusi geokimia Granit Klabat serta dampaknya terhadap pengayaan unsur timah dan Logam Tanah Jarang (Rare Earth Elements/REE) di wilayah Pangkalan Baru, Pulau Bangka.
Program hibah yang diselenggarakan oleh MGEI bertujuan untuk mendorong lahirnya riset berkualitas dari kalangan generasi muda sekaligus memperkuat keahlian teknis mahasiswa di bidang kebumian.
Usai melalui proses seleksi yang sangat kompetitif dari 15 proposal terbaik, tim ITB berhasil mendapatkan dukungan dana hingga Rp50 juta. Riset lapangan dilakukan secara langsung di area Izin Usaha Pertambangan milik PT Timah Tbk.
“Setelah terpilih, kami meneliti selama enam bulan dengan beberapa milestone seperti progress report, presentasi di MGEI Annual Convention, hingga presentasi akhir pada 4 Maret 2026,” papar Zaky.
Dalam pelaksanaannya, Zaky dan Wenny melakukan berbagai tahapan ilmiah, mulai dari pemetaan zona perubahan batuan, analisis struktur geologi yang mengontrol aliran fluida, hingga identifikasi tahapan terbentuknya mineral.
Baca juga: FIKES UB Hadirkan Layanan Analisis Komposisi Tubuh dengan Teknologi InBody 970 yang Lebih Akurat
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik granit di lokasi tersebut sangat mendukung terjadinya pemusatan mineral berharga.
Pencapaian utama dari riset yang dilakukan adalah pengembangan model struktural-hidrotermal untuk mineralisasi timah dan logam tanah jarang.
Model ini diprediksi akan menjadi acuan penting bagi strategi eksplorasi di masa depan, sehingga pencarian cadangan mineral baru di Indonesia bisa dilakukan dengan lebih efisien dan akurat.
Meskipun membuahkan hasil yang memuaskan, perjalanan penelitian tidaklah mudah. Para mahasiswa ini harus pintar membagi waktu antara jadwal kuliah yang padat dengan kegiatan riset di lapangan.
Selain itu, mereka harus cepat beradaptasi dengan kondisi lingkungan tambang aktif yang sangat dinamis, sebuah pengalaman berharga yang tidak didapatkan di bangku perkuliahan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Itb.ac.id