Kamis, 03 JULI 2025 • 20:30 WIB

Sejarah Panjang KKN UGM: Dari Desa Hingga Digital, Perjalanan 50 Tahun Mahasiswa Mengabdi

Author

Potret mahasiswa KKN PPM dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 2024 (sumber: uga.ac.id)

INDOZONE.ID - KKN (Kuliah Kerja Nyata) adalah program unik di kampus Indonesia. Mahasiswa tinggal di desa atau komunitas, membantu warga sambil belajar dari masyarakat. UGM jadi pelopor program ini sejak era 1970-an. Tujuannya menyatukan ilmu kampus dengan kebutuhan riil rakyat.

Awalnya, tahun 1951, UGM punya program bernama PTM (Pengerahan Tenaga Mahasiswa). Mahasiswa dikirim jadi guru atau basmi buta huruf. Program ini berhenti tahun 1962. Sepuluh tahun kemudian, muncul ide baru yang lebih menyeluruh yaitu KKN.

Tahun 1971, UGM bersama Universitas Andalas dan Hasanuddin uji coba program baru. Mereka menyebutnya "Pengabdian Mahasiswa kepada Masyarakat". Mahasiswa tidak hanya mengajar, tapi juga bantu tangani masalah ekonomi dan sosial warga desa.

Kelahiran Resmi KKN dan Perkembangannya

Nama "Kuliah Kerja Nyata" (KKN) resmi dipakai tahun 1973. UGM menjadi koordinator pertama untuk wilayah Indonesia Tengah. Pada tahun 1973/1974, 13 universitas negeri ikut melaksanakan KKN angkatan pertama.

UGM serius menjadikan KKN bagian penting pendidikan. Tahun 1976, Rektor mengeluarkan aturan KKN menjadi mata kuliah wajib bagi semua mahasiswa S1. Artinya, mahasiswa UGM harus ikut KKN untuk bisa lulus.

Jumlah peserta membengkak! UGM pun inovatif. Tahun 1977, mereka membuat "KKN Kampus" bagi mahasiswa yang belum bisa ke desa. Mereka belajar teori pemberdayaan masyarakat di kampus dulu.

KKN UGM makin meluas. Tahun 1980-an, diadakan 2–3 angkatan per tahun. Tahun 1990, KKN UGM pertama kali menjangkau luar Jawa, seperti Lampung dan Kalimantan Selatan. Mahasiswa UGM mulai tersebar membantu desa-desa di berbagai pelosok.

Tantangan dan Perubahan Bentuk KKN

Era Reformasi 1998 jadi ujian berat. Gubernur Jawa Tengah melarang KKN karena situasi politik tidak aman. Tapi, kolaborasi khusus "KKN Terpadu AMD" (gabungan dengan program TNI) masih berjalan. Program ini menjadi pintu munculnya model KKN tematik.

Tahun 1999, UGM mulai melakukan uji coba "KKN Alternatif". Mahasiswa yang sudah aktif di proyek pengabdian di kampus bisa konversi nilai setara KKN. Tahun 2001, model ini resmi bernama "KKN Tematik". Fokus pada tema spesifik, seperti informasi atau ekonomi warga.

KKN Tematik berkembang menjadi "KKN Tematik Kontekstual" pada tahun 2005. Mahasiswa tidak hanya membawa tema, tapi juga menyesuaikan dengan masalah unik di lokasi. Pendekatannya menjadi lebih fleksibel dan partisipatif, melibatkan warga sejak perencanaannya.

Tahun 2015, KKN UGM masuk ke daerah terpencil dan perbatasan, seperti Sabang, Miangas, dan Papua. Kerja sama dengan pemerintah daerah dan alumni (Kagama) diperkuat. KKN benar-benar menjangkau ujung Indonesia.

Baca juga: Bawa Misi Ketahanan Pangan, KKN UGM Siap Panen Padi Gamagora di Pulau Enggano

Pro-Kontra dan Kritik dari Berbagai Pihak

Mahasiswa mulai mempertanyakan KKN. Tahun 1999, polling BEM UGM menunjukkan 41,8% mahasiswa melihat penyimpangan dalam KKN. Sebanyak 54,5% merasa bahwa masyarakat tak butuh KKN lagi. Mereka meminta KKN menjadi mata kuliah pilihan, bukan wajib.

Kasus-kasus negatif muncul, seperti pada tahun 1997. Mahasiswa KKN di Gunungkidul dilaporkan kesulitan membantu warga dalam mengurus akta karena ada pungli. Mahasiswa merasa jadi "Sinterklas" yang datang sebentar, bukan agen perubahan sejati.

Biaya KKN juga jadi masalah. Sejak 1987, mahasiswa diharuskan membayar untuk KKN. Pada tahun 1997, biaya KKN reguler sebesar Rp196.000. Jurusan di fakultas juga kewalahan mensubsidi biaya KKN Ekstensi yang mahal, apalagi saat krisis moneter 1998.

Dosen juga ikut memberikan kritik. Tahun 2004, seorang dosen menyebut mahasiswa KKN UGM yang jumlahnya besar (4.000 per angkatan) jadi "beban masyarakat". Ia khawatir warga jenuh menerima. Relevansi KKN model lama dipertanyakan di era baru.

Baca juga: KKN UGM Sulap 'Kota Seribu Umbul' Klaten, Ciptakan Desa Wisata Berbasis Digital

Respons UGM dan Masa Depan KKN

UGM merespons kritik. Tahun 2003, Lokakarya KKN menekankan pentingnya reorientasi paradigma untuk fokus pada pengembangan kepribadian mahasiswa dan pemberdayaan masyarakat berbasis kebutuhan, bukan sekadar proyek kampus.

Naskah Akademik tahun 2005 mengakui kelemahan KKN, yaitu memperpanjang masa studi, kurang ilmiah, tidak berkesinambungan, dan kurang memberi umpan balik untuk pengembangan kampus. Evaluasi jujur ini menjadi dasar perbaikan KKN ke depannya.

Pandemi COVID-19 tahun 2020 memaksa KKN berubah total. KKN lapangan tradisional dihentikan. Tahun 2021–2022, KKN beralih ke bentuk digital. Mahasiswa membantu masyarakat lewat internet, menyesuaikan dengan situasi darurat kesehatan.

Meski banyak tantangan, banyak pihak tetap mendukung KKN. Bupati Bantul tahun 2001 memuji KKN UGM yang sukses menggerakkan partisipasi warga dalam pembangunan. Ia melihat langsung manfaatnya bagi peningkatan taraf hidup masyarakat desa.

Setengah abad perjalanan KKN UGM penuh dinamika. Dari gagasan membantu desa era 1970-an, hingga adaptasi digital di abad ke-21, KKN terus mencari bentuk. Tantangannya tetap sama yaitu bagaimana menghubungkan ilmu kampus dengan kebutuhan nyata masyarakat secara berkelanjutan dan bermakna.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jurnal Doi.org

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU