INDOZONE.ID - Mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) kembali bikin gebrakan lewat program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik yang dijalankan Tim 111 Kelompok 3. Bukan di desa, kali ini mereka terjun langsung ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Ambarawa, Kabupaten Semarang, dengan mengusung tema “Membangun Ketahanan Diri Warga Binaan Pemasyarakatan Pasca Bebas.”
Langkah berani ini fokus pada pembinaan kepribadian, kemandirian, dan reintegrasi sosial bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), khususnya mereka yang terjerat kasus narkotika. Lapas Ambarawa sendiri saat ini tengah menghadapi tantangan serius, mulai dari kelebihan kapasitas hingga tingginya angka residivisme. Dengan daya tampung ideal 222 orang, Lapas ini dihuni 478 WBP, dan 166 di antaranya merupakan kasus narkotika.
Dari hasil wawancara dengan petugas Lapas, WBP narkotika disebut memiliki tingkat residivisme tertinggi. Meskipun sudah mendapatkan pembinaan, banyak di antara mereka yang kembali terjerumus ke lingkungan lama usai bebas. Minimnya tenaga profesional di bidang rehabilitasi turut memperburuk situasi.
Baca juga: Alternatif Sehat Pengganti Ayam, Mahasiswa KKN UNDIP Melakukan Inovasi Pembuatan Nugget Ikan Lele
Melihat urgensi tersebut, Tim KKN UNDIP menghadirkan serangkaian program multidisiplin yang selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan. Program ini dibagi menjadi tiga pilar utama.
Pertama, edukasi keterampilan hidup dan persiapan reintegrasi sosial. Di sini, para mahasiswa membekali WBP dengan pelatihan kewirausahaan seperti strategi bisnis, perhitungan BEP dan ROI, pentingnya legalitas usaha, hingga sertifikasi halal. Mereka juga memberikan keterampilan digital seperti membuat CV online dan menjelajahi platform pencari kerja. Tak ketinggalan, edukasi hukum dan mental seperti pencegahan residivisme, pengendalian diri dari narkoba, serta bahaya pinjaman online dan perdagangan manusia juga diberikan.
Pilar kedua adalah ruang rekreasi untuk mendukung pemulihan mental. Mahasiswa menggelar terapi seni lewat kegiatan melukis dan meronce sebagai sarana ekspresi diri. Berbagai lomba 17-an juga digelar untuk meningkatkan semangat, kebersamaan, dan hiburan di tengah rutinitas lapas. Di samping itu, literasi digital turut diberikan lewat modul anti-hoaks dan edukasi teknologi yang sehat.
Yang ketiga, kontribusi langsung untuk mendukung sistem operasional Lapas. Dari sisi saintek, mahasiswa merancang chatbot informasi dan sistem pelaporan obat untuk klinik Lapas. Di sisi sosial-humaniora, mereka ikut membantu promosi produk WBP secara daring, pengelolaan perpustakaan, pencatatan data residivisme, hingga memperkuat branding media sosial Lapas.
Kegiatan KKN ini tak hanya berdampak langsung bagi para WBP, tetapi juga berkontribusi pada modernisasi sistem pelayanan di Lapas Ambarawa. Selain itu, mahasiswa juga memproduksi luaran wajib seperti poster edukatif, video dokumentasi, hingga reportase kegiatan untuk menyebarluaskan semangat pengabdian mereka.
Baca juga: Warisan Rasa dari Sokowolu: Teh Sangan Dapat Panggung Lewat Inovasi KKN UNDIP
Lewat pendekatan humanis dan kolaboratif, mahasiswa UNDIP membuktikan bahwa pengabdian kepada masyarakat bisa menjangkau ruang yang jarang tersorot publik. Program ini bukan hanya soal mengimplementasikan teori kampus, tapi juga membawa semangat perubahan dan harapan baru bagi para WBP untuk bangkit dan menjalani hidup yang lebih baik pasca bebas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung