Rabu, 30 JULI 2025 • 14:23 WIB

Bangun Kembali Rasa Cinta Budaya Sejak Dini, Mahasiswa KKN Unhas Gelar Pelatihan Aksara Lontarak Bugis di Desa Tassese

Author

Pelatihan menulis aksara Lontarak di SD Desa Tassese (Istimewa)

INDOZONE.ID - Rasa cinta tanah air tak pernah pudar, tapi cinta terhadap budaya setempat kini mulai melonggar.

Demi mengembalikan semangat mencintai budaya lokal dan menguatkan tali antargenerasi, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin mencetuskan program pelatihan pelestarian aksara Lontarak.

Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, dari 25 hingga 29 Juli 2025, dan diikuti oleh siswa kelas 3 dan 4 SD di Desa Tassese, Kecamatan Mamuju, Kabupaten Gowa.

Juniar Fitra Ariyani, mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, menginisiasi program ini sebagai kontribusi dalam melestarikan budaya daerah khususnya aksara Lontarak, warisan bersejarah masyarakat Bugis-Makassar.

Suasana pelatihan program pelatihan aksara Lontarak (Istimewa)

Meski masyarakat mengenal aksara Lontarak, belum banyak yang memahami cara membaca maupun menuliskannya.

Melalui program ini, mahasiswa KKN Unhas berupaya menumbuhkan kemampuan menulis, membaca, serta memahami sejarah, makna filosofis, dan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam setiap guratan aksara tersebut.

Banyak anak-anak yang sudah mengenal bentuk aksara Lontarak, tapi belum memahami cara membacanya apalagi menuliskannya. Melalui pelatihan ini, saya ingin membangkitkan kembali ketertarikan mereka terhadap budaya sendiri, sejak usia dini,” ungkap Juniar.

Baca juga: Adopsi Budaya ala Jepang, Mahasiswa KKN Undip Beri Pendampingan Pengelolaan Sampah Berbasis 3R

Kegiatan ini disambut baik oleh pihak SD Desa Tassese. Selain menarik dan interaktif, program ini juga sarat makna dan dinilai efektif untuk menumbuhkan kecintaan terhadap budaya daerah.

Suasana kegiatan pelatihan di SD Desa Tassese (Istimewa)

Pelatihan dikemas dengan metode bercerita dan belajar sambil bermain. 

Para siswa diajak mengenal bentuk dasar huruf Lontarak, menuliskan nama mereka, dan membuat kartu nama dengan tulisan tangan sendiri.

Kepala SD Desa Tassese menyampaikan apresiasinya atas kegiatan ini. “Kami berharap pelatihan semacam ini bisa dilanjutkan dan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Gowa,” ujarnya.

Program ini sejalan dengan kebijakan penguatan muatan lokal yang bertujuan merevitalisasi aksara daerah dalam kurikulum pendidikan dasar di Provinsi Sulawesi Selatan.

Lewat pelatihan ini, generasi muda diharapkan tidak hanya mengenal aksara Lontarak sebagai bagian dari pelajaran, tapi juga menjadikannya identitas budaya yang patut dibanggakan dan dilestarikan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Istimewa

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU