INDOZONE.ID - Dalam kehidupan masyarakat pesisir, perempuan memegang peran penting dalam rantai distribusi hasil perikanan. Di berbagai pelabuhan kecil hingga besar di Indonesia, mereka telah lama terlibat sebagai pedagang ikan, baik dalam skala kecil maupun sebagai pengumpul yang menjual kembali ke pasar yang lebih luas.
Istilah Women in Maritime merujuk pada keterlibatan perempuan dalam sektor maritim, baik di laut maupun darat. Secara global, perhatian terhadap peran perempuan di bidang ini mulai menguat sejak 1988, ketika International Maritime Organization (IMO) memperkenalkan program Women in Development. Program ini kemudian berkembang menjadi Women in Maritime, dengan fokus pada pelatihan, peluang kerja, dan pengakuan atas kontribusi perempuan dalam sektor maritim.
Sejak pertengahan abad ke-20, peran perempuan dalam sektor ini semakin menonjol, seiring meningkatnya produksi perikanan dan berkembangnya infrastruktur pelabuhan. Di pelabuhan tradisional seperti Pelabuhan Ikan Tawang di Kendal, aktivitas perempuan terlihat nyata dari tumbuhnya pasar-pasar ikan yang berdampingan dengan aktivitas lelang.
Baca juga: Menelisik Potensi Udang Vaname di Desa Tedunan Kabupaten Demak
Baca juga: Dukung UMKM Terasi, Tim KKN UNDIP Bikin Produksi Lebih Higienis dan Efisien
Biasanya, perempuan menjual ikan hasil tangkapan suami, saudara, atau mitra nelayan mereka. Mereka menjadi perantara antara nelayan dan konsumen akhir, termasuk rumah tangga dan pedagang pasar. Aktivitas ini memiliki ciri khas: dilakukan di ruang terbuka dekat pelabuhan, dengan jam kerja yang fleksibel. Ada yang mulai sejak pagi hari, ada pula yang menunggu pelelangan selesai pada pukul 13.00.
Perdagangan ikan yang dilakukan perempuan di pelabuhan merupakan kegiatan ekonomi maritim yang sederhana namun dinamis, sangat dipengaruhi oleh hasil tangkapan dan kondisi cuaca. Kegiatan ini bukan sekadar tambahan, melainkan bagian integral dari sistem ekonomi keluarga pesisir. Bahkan, tak sedikit perempuan yang menjalankan usaha ini secara mandiri, memiliki jaringan pelanggan tetap, serta mengelola logistik pengangkutan dan penyimpanan ikan.
Sayangnya, kontribusi penting ini kerap tak terdokumentasikan secara resmi. Minimnya pencatatan statistik yang memisahkan peran berdasarkan gender membuat peran perempuan dalam industri perikanan seringkali luput dari perhatian. Padahal, secara historis, perempuan telah menjadi penopang utama dalam keberlangsungan ekonomi maritim di berbagai wilayah pesisir Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan Langsung