INDOZONE.ID - Siapa bilang keterbatasan bisa menghalangi mimpi? Tahun 2024, dunia pendidikan dan hukum dikejutkan oleh kabar dari Zacatecas, Meksiko.
Seorang mahasiswi bernama Ana Victoria Espino de Santiago berhasil mencetak sejarah sebagai pengacara pertama di dunia dengan kondisi Down syndrome.
Baca juga: Inspiratif! Deva Ale, Mahasiswi ITB Stikom Ambon Presentasi Skripsi Pakai Bahasa Isyarat
Ana Victoria menyelesaikan studi hukum di Universidad Autónoma de Zacatecas. Perjalanannya tentu gak mudah. Sistem pendidikan pada awalnya gak dirancang untuk menyesuaikan kebutuhan orang dengan disabilitas, sehingga ia sempat menghadapi penolakan.
Tapi, berkat dukungan seorang profesor yang setia mendampinginya, Ana Victoria bisa melalui lima tahun kuliah dengan penuh semangat.
Sang profesor selalu hadir di setiap kelas, membantu menyiapkan ujian, hingga memastikan Ana mendapatkan akses belajar yang sama dengan mahasiswa lain.
Lebih dari Sekadar Gelar
Keberhasilan Ana Victoria bukan hanya soal bisa dan udah ngeraih gelar sarjana hukum aja. Tapi Pencapaiannya jadi simbol penting kalau pendidikan inklusif mampu ngebuka peluang luar biasa.
Apa yang Ana lakukan adalah bukti kalau dukungan yang tepat bisa ngubah “ketidakmungkinan” menjadi sebuah kenyataan.
Meksiko sendiri gak mewajibkan ujian bar (bar exam) untuk bisa berpraktik hukum, tetapi Ana Victoria sudah menunjukkan langkah besar dengan ikut terlibat dalam forum legislatif. Tujuannya jelas, Ana ingin menggunakan pengetahuan hukumnya untuk memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas.
Ana jadi simbol yang kuat kalau semua orang, tanpa terkecuali, pantas mendapatkan ruang untuk didengar.
Menjadi Inspirasi
Kisah Ana Victoria jadi refleksi penting bagi dunia, khususnya bagi mahasiswa dan akademisi. Ana menunjukkan kalau pendidikan gak boleh eksklusif hanya untuk mereka yang dianggap “normal” oleh standar umum.
Sistem yang adaptif dan dukungan nyata dari lingkungan kampus bisa mencetak generasi hebat dengan latar belakang apapun.
Di sisi lain, keberhasilan ini juga jadi pengingat kalau inklusivitas bukan sekadar jargon. Banyak kampus masih perlu bergerak lebih jauh untuk benar-benar memberikan fasilitas bagi mahasiswa dengan kebutuhan khusus.
Ana Victoria udah ngebuktiin, jika diberi kesempatan yang sama, keterbatasan bukan lagi penghalang, melainkan justru pemicu lahirnya prestasi luar biasa yang membanggakan. Mungkin udah saatnya dunia mulai melihat pendidikan sebagai ruang untuk semua orang, bukan hanya sebagian.
Kalau Ana Victoria bisa menembus batas dengan kondisi Down syndrome dan jadi pengacara, apa alasan kamu buat berhenti berusaha?
Nah, kalau kamu sendiri, kira-kira apa mimpi yang mau kamu wujudkan meski banyak tantangan di depan mata?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@thebrainypedia