INDOZONE.ID - Sementara anak-anak seusianya masih sibuk main di taman atau belajar perkalian, Aiden Wilkins malah sibuk ngikutin kuliah di kampus.
Usianya yang baru menginjak 9 tahun, Aiden disebut juga sebagai child prodigy alias anak jenius. Perjalanan akademiknya luar biasa.
Aiden Wilkins, anak jenius asal Montgomery County, Pennsylvania, bukan hanya siswa SMA kelas Sophomore, tapi juga menjadi mahasiswa termuda yang mengikuti kelas neuroscience di Ursinus College.
Tujuan dia ngikutin kelas ini biar jadi seorang pediatric neurosurgeon. Tentu aja semua ini bikin banyak orang tercengang sekaligus terinspirasi.
Baca juga: Real Prodigy! Baek Kang-hyun, Seorang Anak dengan IQ 204 yang Mengincar Oxford di Usia 12 Tahun
Awal Ketertarikan dan Perjalanan Belajar
Kisah Aiden dimulai sejak usia 2 tahun, ketika ia sudah bisa membaca rambu-rambu di jalan, sesuatu yang umumnya di luar jangkauan anak seusianya yang baru belajar bicara.
Gak lama kemudian, Aiden menjalani tes untuk siswa berbakat (Gifted Test) yang mengonfirmasi kalau Aiden punya kemampuan akademis di atas rata-rata.
Ia tetap terdaftar di Reach Cyber Charter High School sebagai sophomor atau siswa tahun kedua. Tapi beberapa hari dalam seminggu dipakai untuk mengikuti kuliah neuroscience di Ursinus College.
Keputusan ini gak cuman ambisi, tapi bagian dari rencananya untuk persiapan menuju sekolah kedokteran.
Semangat Kecil dengan Impian Besar
Walau prestasinya masif, Aiden tetap memperlihatkan sisi anak-anak yang sederhana. Ia tetap suka main video game, bermain sepak bola, dan menikmati masa kecilnya selagi bisa.
Menurut ibunya, Veronica Wilkins, dukungan utama adalah ngebiarin Aiden tumbuh sesuai keinginannya sendiri dengan dorongan dan ruang yang pas.
Waktu ia mulai datang ke Ursinus College, Aiden muncul dengan setelan jas dan dasi, bukan gaya formal biasa. Tapi jelas kalau itu nunjukin keseriusannya.
Aiden udah mulai berdiskusi tentang topik-topik kompleks seperti glial cells, neuroplasticity, sampai karya sastra seperti Shakespeare. Semua ini bagian dari proses agar pikirannya terus ditantang.
Tantangan dan Harapan
Walau keliatan hebat dan jalannya mulus, menjadi bocah prodigy juga punya tantangannya sendiri.
Selain beban akademik yang berat, Aiden juga harus ngatur waktu antara kelas SMA, kuliah di perguruan tinggi, dan tetap punya waktu untuk bermain dan jadi anak-anak.
Ibunya bilang kalau peran sebagai pendukung sangat penting dalam memberi ruang bagi Aiden berkembang, tanpa paksaan.
Selain itu, Aiden udah mulai memilih universitas untuk jenjang selanjutnya. Johns Hopkins dan Princeton termasuk daftar pilihan yang ia pertimbangkan untuk sekolah kedokteran.
Baca juga: Keren! 3 Inovasi Medis Mahasiswa Telkom Surabaya Ini Langsung Diterapkan di RS Indonesia
Aiden Wilkins nunjukin kalau mimpi besar bisa dimulai sejak dini, tentunya didukung dengan passion dan dedikasi.
Meskipun usianya sangat muda, ia sudah berjalan di jalan yang pasti kuliah neuroscience, persiapan sekolah kedokteran, dan keinginan membantu anak-anak dengan kondisi neurodisabilitas.
Kesempatan belajar itu gak terbatas, selama ada keinginan dan kerja keras. Lingkungan keluarga, sekolah dan dosen juga penting untuk memberikan ruang agar bakat bisa tumbuh, bukan ditekan.
Nah, gimana nih pendapat kamu soal bocah prodigy ini?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Abc7.com