INDOZONE.ID - Buat mahasiswa akhir yang lagi nyusun proposal penelitian, skripsi, atau lagi bingung mau mulai dari mana, research gap adalah kunci biar riset punya nilai kebaruan.
Prof. Sugiyono punya lima bentuk gap yang bisa jadi pegangan supaya penelitian terasa lebih segar dan relevan. Apa saja? Yuk, simak penjelasan selengkapnya!
5 Bentuk Research Gap ala Prof. Sugiyono
Baca juga: Anti Panik! Begini Timeline Mulai Skripsi dari Semester 1 sampai Lulus
1. Gap Pengetahuan
Ada teori atau temuan sebelumnya yang belum bisa menjelaskan sebuah fenomena secara utuh. Kalau menemukan bagian yang belum terjawab, itu bisa jadi celah menarik untuk diangkat sebagai kontribusi baru.
2. Gap Praktik Lapangan
Kadang kenyataan di lapangan gak selalu sesuai teori. Misalnya, teori bilang A, tapi hasil pengamatan malah menunjukkan B. Ketidaksesuaian ini justru bisa jadi landasan penelitian untuk menilai ulang hubungan teori dan praktik.
3. Gap Metode
Beberapa riset memakai metode yang kurang tepat untuk masalah tertentu. Dari situ, muncul peluang buat menawarkan metode yang lebih pas, entah itu teknik pengumpulan data lebih modern, pendekatan baru, atau kombinasi metode lebih kuat.
4. Gap Teori
Fenomena baru sering membuat teori lama kurang relevan. Kalau teori yang umum dipakai terasa gak lagi cocok, peneliti bisa menawarkan teori tambahan atau perspektif baru yang sesuai dengan konteks terkini.
5. Gap Populasi atau Wilayah
Baca juga: Mau Lulus Tepat Waktu? Hindari 4 Kesalahan Fatal Saat Nyusun Proposal Skripsi
Ada populasi atau daerah tertentu yang belum pernah diteliti sebelumnya. Fenomena sama bisa menghasilkan temuan berbeda kalau diteliti di wilayah baru, komunitas baru, atau kelompok masyarakat yang belum tersentuh penelitian.
Dengan memahami lima jenis research gap ini, mahasiswa bisa lebih mudah menentukan arah penelitian yang jelas dan punya nilai tambah. Tak hanya itu, riset pun jadi lebih kuat serta lebih relevan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@literasiku_publishing.id