Kamis, 11 DESEMBER 2025 • 17:20 WIB

Berani Angkat Video Isu Kesehatan Mental, Mahasiswa Ubaya Raih Juara 2 Dekativity 2025

Author

Mahasiswa Ubaya yang meraih juara 2 kategori lomba videografi (ubaya.ac.id)

INDOZONE.ID - Mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) berhasil mengukir prestasi setelah memenangkan juara 2 kategori videografi dalam ajang Dekativity 2025.

Kemenangan ini diraih oleh tim yang dipimpin oleh Muhammad Habil Yustian, mahasiswa Politeknik Ubaya, bersama anggota Patricia Esther Wellyana dan Alodia Ardine Ardiningrum dari Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Ubaya

Baca juga: Canggih! Mesin Pencacah Modular Mahasiswa Itera: Inovasi Atasi Limbah Pertanian dan Plastik Desa

Video yang mereka buat diberi judul “Berani dan Menghargai” dan memiliki durasi tiga menit.

Karya videografi tersebut secara spesifik mengangkat isu kesehatan mental sebagai tema utamanya, dilatarbelakangi peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia tahun 2025.

Video ini secara mendalam menyoroti realitas perjuangan yang dialami masyarakat saat menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk menghasilkan narasi yang realistis, Habil dan tim juga melakukan wawancara langsung dengan sejumlah profesi yang ditemui di jalanan. 

Baca juga: FIKES Uhamka Sukses Gelar Gerakan Kesehatan dan Pengabdian Masyarakat untuk Pekerja Peternakan di Jonggol

Beberapa di antaranya meliputi petugas parkir, penjual kaki lima, tukang sapu, hingga satpam. Mereka mengajukan pertanyaan sederhana namun mendalam, seperti “Capek, nggak, Pak, Bu?”.

Melalui berbagai tanggapan yang dikumpulkan, Habil dan tim ingin menyampaikan pesan utama bahwa perasaan lelah atau capek adalah kondisi yang wajar dan manusiawi dialami oleh setiap orang.

Oleh karena itu, mengakui dan bersikap terbuka terhadap rasa lelah tersebut bukanlah suatu kelemahan yang harus disembunyikan, melainkan merupakan wujud nyata dari keberanian.

Proses pembuatan video ini bukannya tanpa tantangan. Tim Ubaya harus berusaha keras menyusuri jalan raya untuk mencari orang yang sesuai dan bersedia diwawancarai. 

Baca juga: Lewat Video Singkat di Depan Kampus, Driver Ojol Ini Dapat Beasiswa dari Ketua Yayasan UNTAR

Habil menjelaskan bahwa memilih orang secara acak untuk diwawancarai, apalagi tidak semua orang bersedia direkam, memerlukan waktu dan upaya yang besar.

“Tidak semua orang berkenan untuk direkam. Kadang, jawaban yang diberikan sangat singkat sebatas ya dan tidak, sehingga tidak dapat dikembangkan dan sulit digunakan di dalam video,” ungkapnya.

Terlepas dari kesulitan tersebut, Habil menyatakan bahwa prosesnya memberikan pelajaran berharga.

“Kita jadi lebih paham kalau yang capek bukan hanya kita. Ada yang harus kerja mulai jam 2 pagi, bahkan ketika kita wawancara juga sambil bekerja. Banyak orang-orang di luar sana yang privilege-nya tidak sebanyak kita, tapi masih semangat untuk hidup dan bekerja,” tutup Habil.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Ubaya.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU