INDOZONE.ID - Rumah kayu ramah lingkungan karya Guru Besar FT UGM Prof. Ali Awaludin, terpilih jadi salah satu penerima Best Greenship Innovation di ajang Greenship Awards 2025.
Acara ini diselenggarakan oleh Green Building Council Indonesia (GBCI). Rumah karya Ali Awaludin yang bernama Paviliun CLT Nusantara ini menerima penghargaan berdasarkan konsep bangunan yang ramah lingkungan.
Rumah ini bisa menjadi mobil konstruksi masa depan yang berbasis dari kayu rendah emisi. Penghargaan ini menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan model konstruksi berbahan kayu, yang sudah berkembang di beberapa negara maju.
Selain itu, rumah kayu ini jadi simbol komitmen UGM untuk terus mendorong praktek keberlanjutan di lingkungan kampus.
Baca juga: D-DART UNDIP Terjun ke Lokasi Banjir Sumbar, Sediakan Layanan Medis hingga Psikososial
Bahan dan Teknologi yang Digunakan
Ali Awaludin menyebut ada beberapa aspek inovatif, meliputi penggunaan material lokal seperti kayu akasia, sumber energi seperti panel surya, sistem smart lighting, dan IoT smart garden untuk mendukung prinsip nol emisi.
Ketua tim riset Kedaireka ini juga mengungkapkan beberapa pertimbangan untuk menggunakan akasia buat jadi bahan utama. Ini karena jenis kayu tersebut termasuk fast growing trees, yang bisa tahan dan kuat dari jamur.
Teknologi Cross-Laminated Timber (CLT) yang dipakai sudah disesuaikan lewat reverse engineering supaya cocok dengan iklim dan kondisi di Indonesia. Penggunaan ini jadi komponen alat sambung lokal buat susunan kayu akasia yang cenderung ramping.
Hasil riset kolaborasi UGM, ITB, dan Polman Bandung ini berawal dari eksperimen dengan lakban dan kayu akasia, hingga akhirnya jadi proyek skala nasional.
Walaupun demikian, Ali menyebut bahwa rumah ini bukan untuk hunian massal, tapi untuk edukasi dan public space, seperti sekolah dasar, SMP, dan ruang belajar.
“Konsep ini lebih kami tujukan untuk menjadi learning area, agar generasi muda bisa melihat secara langsung bagaimana ecological material diterapkan dalam konstruksi sehingga mereka bisa melihat secara langsung penerapan teori yang mereka pelajari,” ungkapnya.
Ia juga mengatakan bahwa proyek ini sejalan sama nol emisi Indonesia di 2026 dan bisa dicapai lewat reboisasi terencana.
Keunggulan Paviliun CLT Nusantara
Ali mengungkapkan beberapa keunggulan berupa struktur tahan guncangan, bisa menyimpan karbon, dan perawatan yang efisien. Ia menyebut bahwa bangunan ini bisa lebih tahan lama jika dirawat dengan baik.
“Kayu cukup dipastikan kering dan tidak sampai lembab. Perawatannya sederhana, cukup digosok jika terlihat kusam dan coating ulang dua kali dalam setahun,” jelasnya.
Baginya, Paviliun CLT Nusantara bisa jadi ruang kolaborasi dan mendorong adopsi konstruksi hijau. Ia juga berharap agar UGM bisa menerapkan inovasi ini, sehingga bisa menginspirasi kampus lain di Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ugm.ac.id