INDOZONE.ID - Universitas Gadjah Mada (UGM) memberikan bantuan beasiswa internal kepada ratusan mahasiswa angkatan 2025 yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Langkah tersebut diambil untuk memastikan bahwa kendala ekonomi tidak menjadi penghalang bagi mahasiswa yang memiliki potensi akademik dan semangat belajar yang tinggi.
Bantuan secara khusus menyasar 503 mahasiswa baru yang masuk dalam kategori KIP Kuliah non-eligible.
Mahasiswa dalam kelompok ini sebenarnya memenuhi syarat secara ekonomi, namun tidak mendapatkan pendanaan dari pemerintah karena keterbatasan kuota KIP Kuliah tahun 2025.
Dengan adanya bantuan yang diberikan, UGM berharap para mahasiswa tetap bisa melanjutkan studi mereka tanpa rasa khawatir tentang biaya pendidikan.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Dr. Ari Sujito, menjelaskan bahwa inisiatif ini adalah bentuk tanggung jawab sosial dan wujud keadilan di lingkungan kampus.
Baca juga: Segera Dibuka! Simak Jadwal, Syarat, dan Cara Daftar KIP Kuliah 2026 agar Bebas Biaya UKT
Untuk mendanai program, UGM mengalokasikan dana yang cukup besar dari sumber internal.
Tercatat, sebanyak Rp1,5 miliar diambil dari hasil investasi Dana Abadi UGM, ditambah dengan alokasi IPI 2025 sebesar Rp1,1 miliar.
Proses penyaluran bantuan tentunya tidak dilakukan sembarangan. Direktorat Keuangan dan Direktorat Kemahasiswaan bekerja sama mengatur teknis pelaksanaannya secara transparan dan akuntabel.
“Setiap mahasiswa ditangani secara individual berdasarkan pemetaan dan verifikasi data yang mencakup kondisi sosial ekonomi, status UKT, kemampuan finansial, serta rekam jejak dan progres akademik,” tutur Ari.
Baca juga: UGM Berikan Bantuan Akademik, Psikologis, Finansial kepada Mahasiswa Terdampak Bencana Sumatra
Ari menekankan bahwa bantuan diberikan secara individual agar tepat sasaran dan benar-benar membantu mereka yang paling membutuhkan.
Selain bantuan dana langsung, UGM juga menyiapkan berbagai skema pendukung lainnya.
Hal ini meliputi penyesuaian nilai UKT, beasiswa internal tambahan, serta mekanisme talangan untuk mengatasi dampak penundaan pencairan dana bantuan dari pemerintah.
Melalui strategi yang dilakukan, UGM ingin memastikan proses belajar mahasiswa tidak terganggu oleh masalah finansial.
Baca juga: Siap Ikut Bangun IKN, UGM Luluskan 39 Ahli Smart Forest City
Dengan langkah mitigasi tersebut, UGM bertekad agar tidak ada satu pun mahasiswanya yang terpaksa putus sekolah karena alasan ekonomi.
Kampus terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, untuk melindungi hak-hak pendidikan mahasiswa demi masa depan yang lebih baik.
Hal ini selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keberlanjutan pendidikan yang dijunjung tinggi oleh UGM.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ugm.ac.id