Kamis, 05 FEBRUARI 2026 • 16:35 WIB

Kolaborasi UPH dan Singapore Polytechnic Hadirkan Inovasi Nyata bagi Lingkungan dan Masyarakat

Author

Kolaborasi antara Universitas Pelita Harapan dengan Singapore Polytechnic (uph.edu)

INDOZONE.ID - Universitas Pelita Harapan (UPH) melakukan penelitian kolaboratif masif bersama Singapore Polytechnic (SP) yang merupakan bagian dari Learning Express (LeX) Program. Kolaborasi ini memberikan ruang bagi dosen dan mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi serta Fakultas Desain untuk menghadirkan inovasi nyata bagi lingkungan dan masyarakat.

Hasil kerjasama kedua belah pihak menghasilkan berbagai inovasi yang berdampak bagi kebutuhan masyarakat.

Pengelolaan Limbah Organik Berbasis Maggot dengan Sistem Pengiriman Boks

Christiana Gracia Monica (Teknik Industri UPH 2022) bersama Kaung Htet Shain (Civil Engineering SP 2023) bekerja sama melakukan penelitian dengan judul “Sustainable Organic Waste Management Using Maggot Farming."

Melalui penelitian tersebut, mereka mengubah limbah organik di Kampung Ekowisata Keranggan, Tangerang Selatan, menjadi sumber daya bernilai.

Namun, mereka juga mengalami kendala saat mengirimkan maggot. Karung bekas yang biasa digunakan sebagai media pengiriman, berpotensi besar untuk bocor dan mengakibatkan maggot mati. 

Baca juga: Limbah Jadi Cuan! Mahasiswa KKN Unila Sulap Bonggol Jagung Menjadi Briket Bernilai Jual

Menyikapi hal tersebut, tim memutar otak. Mereka memanfaatkan opsi boks lain yang lebih aman untuk proses pengiriman maggot.

Boks ini dilengkapi termometer dan sistem ventilasi agar suhu serta sirkulasi udara tetap optimal selama proses distribusi. Dengan demikian, kualitas maggot dapat terjaga dan budi daya menjadi lebih berkelanjutan,” jelas Gracia.

Ekonomi masyarakat sekitar turut dibantu dengan kehadiran inovasi ini.

Limbah organik dapat ditekan hingga 70–75 persen dan diolah menjadi pakan ternak serta kompos. Boks pengiriman ini telah diserahkan kepada Kampung Ekowisata Keranggan pada 16 Desember 2025 sebagai bentuk penerapan langsung di masyarakat,” tambahnya.

Baca juga: Cegah DBD, Mahasiswa KKN Undip Sosialisasikan Pembuatan Spray Anti Nyamuk di Kelurahan Ngemplak Simongan

Aerogel Ramah Lingkungan

William Ofel Boas (Teknik Industri UPH 2022) dan Anna Manickathan (Civil Engineering SP 2023) melakukan penelitian bersama dalam mendukung upaya Pemerintah Indonesia dengan penerapan Net Zero Emission 2060. 

Melalui penelitian ini, mereka berdua mengembangkan material bangunan yang dapat menahan panas berbahan aerogel. Material sintetis tersebut terkenal efektif dalam menjaga kestabilan suhu ruangan, tanpa membutuhkan banyak pasokan energi listrik.

Dalam kolaborasi ini, tim Singapore Polytechnic mengembangkan aerogel dari abu limbah padat, material ringan berpori yang mampu menahan panas dari luar. Sementara itu, tim UPH menguji efektivitas aerogel dalam menjaga suhu ruangan tetap stabil,” tutur William.

Penelitian ini terbukti efektif dalam menjaga suhu ruangan agar tetap sejuk tanpa harus memperlukan banyak konsumsi daya.

Baca juga: Mahasiswa Arsitektur PCU Sabet Juara 3 SPACIVE 2025 Berkat Konsep Rumah Ramah Anak

Budidaya Anggur Lebih Canggih dengan Sensor Otomatis

Kolaborasi ke dua belah pihak ditutup dengan penelitian yang digarap oleh Lim William Hasim (Desain Produk UPH 2022) dan Khin Myat Myat Min (Computer Engineering SP 2023), melalui penelitan “Intelligence Modular Tool Kit for Grapefruit Farming."

Inovasi ini dimanfaatkan oleh komunitas petani anggur di Ciakar, Kabupaten Tangerang.

Inovasi ini dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat perkotaan yang memiliki keterbatasan waktu dan ruang dalam merawat tanaman. Melalui prototipe modular dengan sistem otomatis, tanaman anggur tetap dapat tumbuh optimal meski dirawat secara individu,” jelas Dosen Program Studi Desain Interior UPH, Dr. Martin L. Katoppo, S.T., M.T.

Dalam proses pengembangan penelitian ini, William dan Khin berbagi tugas untuk mempercepat peneliatian.

Baca juga: Mahasiswa UGM Tawarkan Solusi Baru Pengelolaan Sampah Lewat Insinerator Ramah Lingkungan

Perancangan media tanam dikepalai oleh William, sementara Khin bertanggung jawab dalam pengembangan perangkat yang akan digunakan, termasuk sensor untuk mengukur kelembapan, pH, kesuburan tanah, serta sistem pengairan otomatis.

Setelah melewati uji coba, alat tersebut dipindah tangankan untuk komunitas petani Kebun Pemua NgAnggur.

Sistem pada alat ini dirancang dalam beberapa bagian yang terpisah. Pendekatan tersebut membuat setiap komponen dapat disesuaikan atau ditingkatkan sesuai kebutuhan, sehingga alat ini menjadi lebih fleksibel dan mudah dikembangkan.” tutur William.

Kehadiran alat inovatif ini dapat membantu petani anggur dalam menjalankan pekerjaan dan mengurangi beban fisik yang mereka keluarkan.

Baca juga: Pendaftaran KIP Kuliah 2026 Resmi Dibuka! Ini Jadwal dan Syarat Lengkapnya

Ketiga proyek tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi internasional UPH dan SP mampu menghadirkan inovasi yang berdampak langsung di tengah masyarakat, sekaligus memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kompetensi dan menerapkan ilmunya dalam menjawab isu sosial dan lingkungan yang ada
 
 
 
 
 
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Uph.edu

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU