Kamis, 09 APRIL 2026 • 13:00 WIB

Indonesia Kekurangan Dokter Spesialis, saatnya Mahasiswa Kedokteran Ambil Peran

Author

Ilustrasi dokter spesialis. (freepik)

INDOZONE.ID - Dokter spesialis memegang peranan penting dalam menangani berbagai penyakit berat hingga kasus medis yang rumit.

Mirisnya, di Indonesia, jumlah dotker spesialis justru masih terbatas dan belum merata di berbagai daerah.

Kondisi ini menjadi sebuah tantangan serius, khususnya di sektor kesehatan, mengingat kebutuhan akan tenaga medis dengan keahlian khusus terus meningkat dari waktu ke waktu.

Krisis Dokter Spesialis Langka di Indonesia

Baca juga: Tim Cihuy ISI Yogyakarta Sabet Juara II, Angkat Isu Lingkungan di Ajang Debat Nasional

Berdasarkan data Ikatan Dokter Indonesia (IDI) per Desember 2023, jumlah dokter spesialis di Tanah Air baru mencapai 47.454 orang, dengan rasio hanya 0,17 per 1.000 penduduk. 

Jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan ideal yang diperkirakan harus mencapai sekitar 78 ribu dokter.

Tak hanya soal jumlah, distribusi dokter spesialis juga belum merata. Sejumlah daerah di luar Pulau Jawa masih kekurangan tenaga medis spesialis.

Kondisi ini berdampak langsung dalam menangani pasien, terutama untuk kasus-kasus kompleks seperti kelainan bawaan atau penyakit yang membutuhkan penanganan khusus. 

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah mulai mendorong penguatan peran dokter layanan primer, yakni dokter umum dengan kompetensi tambahan tertentu.

Daftar Spesialis dengan Jumlah Paling Sedikit

Baca juga: Ready Jadi Diponegoro Muda? Ini Panduan Lengkap UTBK-SNBT Undip 2026 yang Wajib Kamu Simak

  • Spesialis odontologi forensik (Sp.OF)
  • Spesialis kedokteran kelautan (Sp.KL)
  • Spesialis parasitologi klinik (Sp.Par.K)
  • Spesialis emergency medicine/kegawatdaruratan (Sp.EM)
  • Spesialis kedokteran nuklir (Sp.KN)
  • Spesialis kedokteran penerbangan (Sp.KP)
  • Spesialis radiologi kedokteran gigi (Sp.RKG)
  • Spesialis farmakologi klinik (Sp.FK)
  • Spesialis kedokteran olahraga (Sp.KO)
  • Spesialis andrologi/kesehatan reproduksi pria (Sp.And)

Panjangnya Perjalanan Menjadi Dokter Spesialis

Baca juga: 7 Sikap Mahasiswa yang Tidak Disukai Dosen Pembimbing, Nomor 2 Paling Sering Terjadi!

Perjalanan dimulai dari bangku Fakultas Kedokteran yang umumnya ditempuh selama 3,5 hingga 4 tahun. Setelah lulus, mahasiswa Kedokteran akan memperoleh gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked.), namun belum bisa langsung menangani pasien di rumah sakit atau layanan kesehatan lainnya.

Untuk bisa menjadi dokter, mereka harus melanjutkan ke tahap pendidikan profesi atau koas (koasisten) selama sekitar 1,5 hingga 2 tahun. Di fase ini, calon dokter belajar langsung di rumah sakit dengan menangani berbagai kasus di bawah pengawasan dari dokter senior.

Setelah itu, mereka wajib mengikuti Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) yang terdiri dari ujian teori dan praktik. Jika lulus, barulah seseorang resmi dilantik sebagai dokter.

Namun, perjalanan belum selesai. Dokter baru masih harus menjalani program internship selama satu tahun di fasilitas kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit. Program ini bertujuan mematangkan kemampuan sebelum benar-benar terjun secara lebih mandiri.

Setelah menyelesaikan internship, dokter akan mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) yang menjadi syarat untuk mengurus izin praktik.

Bagi yang ingin melanjutkan menjadi dokter spesialis, perjalanan akan semakin panjang. Pendidikan spesialis biasanya memakan waktu minimal 4 tahun, bahkan bisa lebih tergantung bidang yang diambil.

Jika ditotal, waktu yang dibutuhkan untuk menjadi dokter spesialis bisa mencapai 9 hingga 10 tahun. 

Peran Penting Dokter Spesialis

Baca juga: Mahasiswa UMM Ciptakan Matahari Homecare, Solusi Layanan Kesehatan Tanpa ke Rumah Sakit

Dokter spesialis berperan penting dalam menangani kasus yang membutuhkan keahlian khusus, seperti kanker, operasi kompleks, hingga penyakit langka.

Dengan pengetahuan mumpuni dan fasilitas teknologi pendukung lebih canggih, mereka mampu memberikan penanganan ke pasien yang tidak bisa dilakukan oleh tenaga medis biasa.

Selain menyelamatkan nyawa, dokter spesialis juga turut membantu meningkatkan kualitas hidup pasien. Mereka tidak hanya fokus menyembuhkan pasien, tetapi juga memastikan mereka bisa pulih dengan optimal dan kembali menjalani aktivitas sehari-hari.

Tanpa dokter spesialis, penanganan penyakit akan jauh lebih berat dan sulit. Tak ayal, percepatan dokter spesialis butuh dilakukan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: UGM, Amatan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU