Kamis, 23 APRIL 2026 • 21:07 WIB

Menakar Wajah Baru Hukum RI: Kala Mahasiswa dan Penegak Hukum di Parepare Duduk Satu Meja

Author

Kegiatan Harlah PMII digelar di Balai Senin IAIN Parepare. (Dok. Pribadi)

INDOZONE.ID - Balai Seni IAIN Parepare siang itu, Selasa (21/4/2026), berubah menjadi ruang debat yang hangat. Bukan demonstrasi dengan pengeras suara di jalanan, melainkan sebuah diskusi meja bundar yang mempertemukan dua sisi yang sering kali berseberangan: mahasiswa dan aparat penegak hukum (APH).

Momen ini diinisiasi oleh Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Parepare dalam rangka merayakan Hari Lahir (Harlah) ke-66 organisasi tersebut. Isunya pun tak main-main: mengupas tuntas “Paradigma Baru Peradilan Pidana” pasca-berlakunya KUHP dan KUHAP baru.

Baca juga: Terinspirasi AI, Mahasiswa Politeknik Negeri Medan Ciptakan Aplikasi Bantu Ibu-ibu UMKM

Ketua PC PMII Parepare, Agung Arra, tampak serius saat membuka forum. Baginya, KUHP baru bukan sekadar tumpukan kertas legalitas, melainkan instrumen yang akan menyentuh langsung kehidupan warga negara.

“Kami ingin memastikan bahwa KUHP dan KUHAP baru tidak hanya dipahami oleh kalangan terbatas. Jangan sampai masyarakat hanya jadi objek hukum tanpa paham hak-haknya,” ujar Agung.

Diskusi ini memang krusial. Pasalnya, transisi menuju hukum nasional yang baru sering kali dibayangi kekhawatiran akan hilangnya perlindungan hak asasi manusia (HAM) demi mengejar kepastian hukum.

Harlah PMII (Dok. Pribadi)

Di satu sisi meja, hadir perwakilan dari Polres Parepare, Kejaksaan Negeri, hingga Pengadilan Negeri Parepare. Di sisi lain, para akademisi hukum seperti Rusdianto Sudirman dan Ketua LBH PKC PMII Sulsel, Nasruddin, siap memberikan kritik pedas namun konstruktif.

Diskusi mulai memanas saat para narasumber membedah tantangan implementasi di lapangan. Pertanyaan besar yang menggantung di ruangan itu adalah: mampukah hukum baru ini tetap menjamin hak warga negara tanpa mencederai kepastian hukum itu sendiri?

Bagi PMII, literasi hukum adalah “senjata” baru. Jika dulu mahasiswa lebih banyak bersuara di jalanan, kini mereka mencoba menguasai substansi di ruang-ruang akademik.

Baca juga: Sosok Niam UNDIP: Aktivis Seribu Prestasi yang Siap Pimpin PMII Semarang

Meski digelar sebagai bagian dari euforia Harlah ke-66, kegiatan ini seolah menjadi penegasan posisi PMII di Parepare. Mereka ingin bertransformasi menjadi motor penggerak literasi publik.

“Ke depan, program semacam ini akan terus kami hadirkan. Ini komitmen kami untuk membangun pemahaman yang luas bagi mahasiswa dan masyarakat umum,” tutup Agung.

Di tengah transisi hukum nasional yang penuh dinamika, dialog terbuka antara pembuat kebijakan, penegak hukum, dan kelompok kritis seperti mahasiswa menjadi oase yang mendinginkan suhu ketidakpastian.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU