Rabu, 29 APRIL 2026 • 18:28 WIB

Prediksi 3 Prodi yang Akan Ditutup Pemerintah: Calon Mahasiswa Wajib Tahu!

Author

Ilustrasi mahasiswa (Freepik)

INDOZONE.ID – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menimbang-nimbang soal evaluasi besar terhadap program studi (prodi) atau jurusan di perguruan tinggi Indonesia pada 2026.

Kebijakan ini disebut sebagai langkah rasionalisasi jurusan kuliah agar pendidikan tinggi lebih selaras dengan kebutuhan dunia kerja.

“Bapak rektor yang ada di sini semuanya, ada kerelaan, nanti mungkin ada beberapa yang harus kami eksekusi dalam waktu tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi, perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup untuk bisa meningkatkan relevansi,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemdiktisaintek Badri Munir Sukoco, dikutip dari Antara, Rabu (29/4/2026).

Langkah tersebut muncul karena adanya ketimpangan antara jumlah lulusan kampus yang mencapai sekitar 1,9 juta orang per tahun dengan daya serap industri yang dinilai belum seimbang. Akibatnya, banyak lulusan kesulitan mendapatkan pekerjaan sesuai bidang studi.

Dalam beberapa tahun ke depan, arah pendidikan tinggi diproyeksikan mendukung delapan sektor utama nasional, yaitu energi, pangan, kesehatan, pertahanan, maritim, hilirisasi industri, digitalisasi, dan manufaktur maju.

Artinya, jurusan yang tidak memiliki keterkaitan kuat dengan sektor-sektor di atas berpotensi mendapat evaluasi lebih ketat, terutama jika lulusannya sulit terserap pasar kerja.  

Baca juga: Lulusan Seni Kerja Apa? Ini Prospek Kerja Bidang Seni yang Menjanjikan dan Relevan dengan Industri Kreatif Modern

3 Ciri Jurusan yang Dinilai Rawan Ditutup

1. Jumlah Lulusan Terlalu Banyak

Jurusan dengan peminat tinggi selama bertahun-tahun sering menghasilkan lulusan dalam jumlah besar.

Jika lapangan kerja yang tersedia tidak sebanding, maka terjadi oversupply. Kondisi tersebut membuat persaingan kerja makin ketat dan angka pengangguran sarjana meningkat.

2. Kurikulum Tidak Mengikuti Perkembangan Zaman

Program studi yang masih mengajarkan materi lama tanpa pembaruan teknologi digital, AI, Internet of Things (IoT), atau data analytics dianggap kurang adaptif.

Lulusan dari jurusan seperti ini dinilai kurang siap untuk menghadapi kebutuhan industri modern.

3. Pekerjaan Bisa Digantikan Otomatisasi

Jurusan yang mengarah pada pekerjaan administratif rutin kini menghadapi tantangan cukup besar.

Banyak tugas seperti input data, pengarsipan, administrasi dasar, hingga layanan standar kini dapat dikerjakan software dan AI.

Baca juga: ITS Terapkan Teknologi AI Face Recognition dan Keamanan Ketat di UTBK SNBT 2026

Jurusan Diprediksi Paling Rawan Dievaluasi

1. Rumpun Keguruan

Jurusan pendidikan mengalami oversupply di beberapa daerah. Jumlah lulusan guru baru sering kali lebih banyak dibanding kebutuhan formasi ASN maupun sekolah swasta.

Namun, bukan berarti semua jurusan pendidikan terancam. Prodi pendidikan yang fokus pada STEM, pendidikan digital, atau guru vokasi masih dinilai relevan.

2. Administrasi dan Manajemen Konvensional

Jurusan administrasi perkantoran, manajemen umum tanpa spesialisasi, serta bisnis tradisional dinilai paling rentan jika tidak bertransformasi.

Saat ini, perusahaan lebih membutuhkan lulusan yang memiliki kemampuan digital marketing, business analytics, supply chain management, fintech, atau manajemen berbasis teknologi.

3. Teknik dan Ilmu Sosial Murni yang Terlalu Teoretis

Jurusan teknik dengan metode lama tanpa pembelajaran software industri, otomasi, dan teknologi baru juga berpotensi tertinggal.

Begitu pula ilmu sosial yang terlalu teoritis tanpa keterampilan praktis, seperti data riset, analisis kebijakan digital, komunikasi modern, atau kemampuan teknologi. 

Baca juga:  Mahasiswi Teknik Kimia Jadi Juara 1 Mahasiswa Berprestasi Universitas Pertamina 2026: Dari Nasional hingga Internasional

Panduan yang Dapat Menjadi Acuan

1. Prioritaskan Prodi Interdisipliner

Pilihlah jurusan yang menggabungkan ilmu utama dengan teknologi, seperti bisnis dan data science atau pendidikan dan AI. Lulusan dari jurusan ini sangat dibutuhkan oleh industri.

2. Hindari Pilihan Ikut-ikutan

Jangan memilih jurusan hanya karena sedang populer atau mengikuti pilihan teman. Fokuslah pada jurusan yang masih dibutuhkan 5–10 tahun ke depan.

3. Cek Koneksi Industri Kampus

Pilih kampus yang punya kerja sama dengan perusahaan, program magang, dan peluang rekrutmen. Ini bisa mempermudah mencari kerja setelah lulus.

4. Jurusan Harus Adaptif

Pemerintah mendorong kurikulum berbasis digital dan teknologi. Jurusan yang tertinggal berisiko dievaluasi atau ditutup.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Amatan, Antara

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU