Sabtu, 23 MEI 2026 • 13:00 WIB

Mahasiswi UNAIR Ciptakan SAPI TEDUH, Teknologi Cerdas Penambah Produksi Susu Sapi

Author

Dea Vania Amalia, Mahasiswa Sabet Juara 2 Esai Nasional Dalam Ajang World Mlik Day 2026 (unair.ac.id)

INDOZONE.ID - Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) mengukir prestasi di tingkat nasional melalui terobosan teknologi yang relevan bagi sektor pangan.

Dea Vania Natalie, mahasiswa Fakultas Vokasi (FV) UNAIR, menyabet juara II dalam ajang kompetisi esai nasional World Milk Day 2026, yang diselenggarakan oleh Universitas Padjadjaran pada 11 Mei lalu.

Inovasi yang ia tawarkan bertajuk "SAPI TEDUH," sebuah solusi modern untuk meningkatkan produktivitas susu sapi di Indonesia melalui pendekatan teknologi digital. 

Baca juga: ITS Terapkan Teknologi AI Face Recognition dan Keamanan Ketat di UTBK SNBT 2026

Menjawab Tantangan Iklim Tropis 

Ide tersebut muncul dari keprihatinan Dea terhadap rendahnya produksi susu sapi perah di Indonesia. Masalah ini kerap terjadi karena tekanan panas atau heat stress.

Sapi jenis Friesian Holstein, yang menjadi andalan peternak lokal, sangat sensitif terhadap suhu tinggi khas wilayah tropis.

Selama ini, solusi di lapangan dianggap masih manual dan lambat dalam merespons perubahan kondisi lingkungan kendang.

Melalui gagasan SAPI TEDUH, Dea merancang sebuah sistem kanopi kandang yang tidak hanya berfungsi sebagai peneduh, tetapi juga sebagai pusat kendali otomatis.

Sistem mengandalkan teknologi Internet of Things (IoT) yang bekerja sama dengan kecerdasan buatan untuk memantau kondisi iklim mikro di dalam kandang secara langsung (real-time). Sensor yang terpasang akan mendeteksi tingkat kelembaban dan suhu secara akurat. 

Inovasi SAPI TEDUH yang Digagas Oleh Dea Vania Natalie (unair.ac.id)

Baca juga: Mahasiswa Unsoed Raih Juara Nasional NEC 2026 lewat Gagasan Pajak Lingkungan

Kecanggihan Teknologi IoT dan Tenaga Surya 

Salah satu nilai jual utama dari SAPI TEDUH adalah kemampuannya dalam mengambil keputusan tanpa perlu bantuan manusia secara terus-menerus.

“Nilai kebaruan dari SAPI TEDUH terletak pada integrasi sistemnya. Tidak hanya mendinginkan kandang, sistem ini juga mampu melakukan pemantauan ternak secara individual dan mengambil keputusan otomatis berdasarkan data di lapangan,” jelas Dea.

Ketika sensor mendeteksi, bahwa suhu udara telah melewati batas kenyamanan bagi sapi, sistem akan secara otomatis menghidupkan ventilasi atau kipas embun (misting fan).

Hal ini memastikan sapi tetap berada dalam kondisi fisik prima sehingga produksi susunya tidak terganggu.

Selain pintar, inovasi yang dirancang juga sangat ramah lingkungan karena menggunakan tenaga surya sebagai sumber energi utama.

Penggunaan panel surya bertujuan untuk menekan biaya operasional peternak. Sebab, biaya listrik sering kali menjadi beban dalam pemeliharaan kandang modern.

Baca juga: Borong Juara di KGSI 2026, Mahasiswa USU Buktikan Inovasi Pendidikan Era Digital

Mudah Diterapkan oleh Peternak Kecil 

Dea menyadari, bahwa teknologi canggih sering sulit dijangkau oleh peternak karena kendala modal dan lahan. Oleh karena itu, SAPI TEDUH dibuat dengan desain modular.

Sistem ini mudah dibongkar pasang dan disesuaikan dengan skala peternakan kecil dengan keterbatasan sumber daya.

Ia menekankan, bahwa di tengah ancaman perubahan iklim, peternak harus mulai mengadopsi teknologi yang adaptif dan efisien.

Baginya, kemajuan teknologi tidak harus selalu rumit atau mahal, melainkan harus fungsional dan mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

Baca juga: Terjun Langsung ke Masyarakat, Mahasiswa UNY Ajak Warga Dongkelan Kauman Bantul Kembangkan Potensi Lokal

Motivasi untuk Terus Berinovasi 

Keberhasilan meraih podium kedua di kancah nasional ini menjadi bukti, bahwa ide yang relevan dan berbasis riset kuat dapat bersaing di level tertinggi.

Dea berharap inovasinya dapat menginspirasi rekan-rekan mahasiswa lainnya untuk tidak takut mencoba hal baru.

“Pilih isu yang relevan, perkuat riset untuk membangun argumentasi, dan pastikan ide tersebut memiliki dampak nyata bagi masyarakat. Esai yang kompetitif adalah esai yang menarik secara konsep namun tetap aplikatif,” pesannya.

Melalui SAPI TEDUH, diharapkan tantangan produktivitas susu nasional dapat teratasi secara berkelanjutan, serta mendorong modernisasi peternakan rakyat di Indonesia melalui sentuhan teknologi cerdas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Unair.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU