Minggu, 24 MEI 2026 • 15:20 WIB

Bahas Isu Tabu di Masyarakat, Mahasiswa UMS Malah Raih Dua Penghargaan Nasional Sekaligus

Author

Najma Azizah Nurrahmah, mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) raih penghargaan Bronze Medal dan Best Poster Olimpiade Penelitian Indonesia (OPI) 2026. (news.ums.ac.id)

INDOZONE.ID - Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Najma Azizah Nurrahmah, berhasil meraih Bronze Medal dan penghargaan Best Poster dalam ajang Olimpiade Penelitian Indonesia (OPI) 2026.

Kompetisi nasional tersebut diselenggarakan oleh Bimble Journal yang bekerja sama dengan Universitas AKPRIND Indonesia dan beberapa pihak lain. 

Dalam penelitiannya, Najma dibimbing langsung oleh Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat UMS, Izzatul Arifah.

Mahasiswa semester enam itu mengangkat penelitian berjudul “Hubungan antara Faktor Sosiodemografi dan Paparan Informasi terhadap Penerimaan Orang Tua pada Alat Kontrasepsi Remaja di Kota Surakarta.”

Baca juga: Tari "Hulubalang" Bawa Mahasiswa Unila Sabet Runner Up Ajang Internasional di Singapura

Penelitian tersebut membahas bagaimana respons dan sudut pandang orang tua terhadap kebijakan alat kontrasepsi remaja yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024.

Poin utamanya itu penggunaan kontrasepsi remaja dari kacamata orang tua. Jadi lebih melihat bagaimana sebenarnya POV orang tua terhadap kebijakan tersebut,” jelasnya.

Dalam proses pengembangan risetnya, ia melibatkan 195 responden yang merupakan orang tua dengan anak berusia 10 hingga 19 tahun di Kota Surakarta.

Dirinya memilih kelompok usia tersebut karena dinilai rentan terhadap persoalan kesehatan reproduksi remaja.

Baca juga: Keren! Mahasiswa USK Raih Medali Perak Internasional Berkat Spray Sariawan dari Daun Sirih dan Lidah Buaya

Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa penerimaan orang tua terhadap alat kontrasepsi remaja masih tergolong rendah. Bahkan, jumlah responden yang menerima kebijakan tersebut belum mencapai separuh dari total peserta penelitian.

Najma menjelaskan bahwa penelitian dilakukan menggunakan pendekatan teori decision making atau pengambilan keputusan dengan melihat faktor internal dan eksternal.

Faktor internal mencakup usia, pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan, sedangkan faktor eksternal lebih berfokus pada paparan informasi yang diterima masyarakat.

Variabel yang paling berpengaruh ternyata adalah paparan informasi. Jadi informasi yang diterima masyarakat sangat menentukan penerimaan orang tua terhadap kebijakan tersebut,” tuturnya.

Baca juga: Itera dan Mata Garuda Lampung Ajak Santri Bikin Balsem Herbal, Asah Literasi Sains dan Jiwa Wirausaha

Dalam penelitian tersebut, paparan informasi dibagi menjadi beberapa bentuk, mulai dari informasi yang didengar langsung, dilihat melalui media, diterima lewat media sosial, hingga informasi yang diperoleh secara langsung dari lingkungan sekitar.

Berdasarkan temuan tersebut, Najma menilai edukasi publik perlu diperkuat apabila kebijakan kontrasepsi remaja ingin diterapkan secara lebih luas di masyarakat.

Menurutnya, sosialisasi tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah saja, tetapi juga perlu melibatkan berbagai pihak seperti tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, hingga tokoh agama.

Paparan informasinya perlu ditingkatkan lagi, misalnya melalui media sosial dan kolaborasi antarsektor supaya masyarakat lebih memahami tujuan kebijakan tersebut,” ujarnya. 

Baca juga: Mahasiswa DCB Angkatan 2025 Antusias Ikuti Kuliah Umum “Mastering Public Speaking in The Digital Space”

Najma mengaku menghadapi berbagai tantangan saat proses pengumpulan data di lapangan, mengingat isu tersebut masih tergolong tabu di masyarakat.

Ia menyebut ada sejumlah responden yang menolak mengisi kuesioner karena menganggap penelitian tersebut mendukung isu kontrasepsi remaja.

Banyak yang mengira saya mendukung atau kontra terhadap kontrasepsi remaja, padahal posisi penelitian ini netral,” katanya.

Proses penelitian sendiri telah ia mulai sejak 2025. Sementara pengambilan data dilakukan di Januari hingga Februari 2026 setelah melewati berbagai tahapan perizinan, mulai dari tingkat Kesbangpol, kecamatan, kelurahan, hingga RT dan RW.

Baca juga: Ini Universitas Terbaik di China yang Jadi Incaran Mahasiswa Internasional

Ke depan, Najma berharap penelitian mengenai kontrasepsi remaja dapat terus dikembangkan dari berbagai sudut pandang lain, seperti budaya, agama, norma sosial, hingga perspektif tenaga kesehatan.

Menurutnya, hal tersebut penting agar implementasi kebijakan nantinya dapat berjalan lebih efektif dan diterima masyarakat secara lebih luas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: News.ums.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU