Hasil laut warga Suradadi (Fadhila/Z Creators)
INDOZONE.ID - Bicara soal Desa Suradadi di Kabupaten Tegal, kamu nggak cuma diajak mengenal pusat pemerintahan Kecamatan Suradadi. Lebih dari itu, desa ini punya cerita panjang soal ketangguhan, adaptasi, dan budaya yang tetap hidup di tengah modernisasi.
Secara geografis, Suradadi berada di pesisir utara Kabupaten Tegal, langsung menghadap Laut Jawa. Di sisi selatan, desa ini berbatasan dengan hamparan sawah dari Desa Kertasari dan Jatimulya, sementara di barat dan timur bersisian dengan Desa Purwahamba dan Bojongsana. Dengan ketinggian hanya sekitar dua meter di atas permukaan laut dan curah hujan tahunan sekitar 2.000 mm, lahan subur Suradadi jadi penopang kuat bagi pertanian.
Dari total 624 hektare luas wilayah, 511 hektarenya berupa sawah. Sebagian besar sudah teraliri sistem irigasi teknis, memungkinkan panen padi dua kali atau lebih dalam setahun. Sisanya dipakai untuk lahan kering dan tambak, membuat desa ini punya karakter agraris sekaligus pesisir.
Kalau biasanya desa-desa di Jawa identik dengan petani, Suradadi justru berbeda. Sekitar 40 persen penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Angka ini jauh lebih besar dibanding petani yang hanya 30 persen, sementara sisanya bekerja sebagai PNS, pedagang, buruh, hingga pengusaha.
Banyak warga lebih memilih melaut ketimbang bertani. Selain karena keterbatasan lahan, profesi nelayan dianggap lebih menjanjikan karena bisa menghasilkan uang setiap hari. Tapi saat paceklik tiba, para nelayan ini nggak ragu banting setir jadi buruh tani atau kuli bangunan. Ini bukti nyata bahwa masyarakat pesisir Suradadi sangat adaptif.
Hasil tangkapan dari laut umumnya dijual ke tengkulak atau juragan, meski ada juga yang melalui Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Dari Suradadi, ikan-ikan segar ini bisa meluncur ke berbagai daerah seperti Brebes, Majalengka, hingga Purwokerto.
Tapi tunggu dulu, sebagian hasil laut Suradadi ternyata juga diekspor ke luar negeri. Teri nasi dikirim ke Jepang dan China, sementara rajungan kering sudah sampai ke Amerika Serikat, Kanada, Belanda, hingga Inggris. Gokil, kan?
Meski TPI menawarkan harga lebih baik, banyak nelayan lebih memilih menjual ke juragan karena ada ikatan sosial dan ekonomi yang sudah terjalin lama. Juragan seringkali jadi sumber modal, bahkan menanggung biaya perbaikan perahu dan alat tangkap.
Mahasiswa KKN Undip dengan salah satu warga Suradadi (Fadhila/Z Creators)
Nelayan di Suradadi nggak berjuang sendiri. Mereka punya sejumlah organisasi yang membantu meningkatkan kesejahteraan dan memperkuat solidaritas.
Baca juga: Kental Nuansa Budaya! Mahasiswa KKN Undip Turut Sukseskan Tradisi Nyadran Laut di Roban Barat
Masyarakat Suradadi punya satu tradisi tahunan yang masih kuat dijaga: Larung Sesaji atau Sedekah Laut. Digelar tiap 1 Muharram, tradisi ini jadi bentuk rasa syukur atas rezeki laut sekaligus doa agar dijauhkan dari bahaya.
Acara dimulai dengan persiapan sesaji seperti kepala kerbau, nasi tumpeng, hingga hasil bumi. Semuanya diarak dengan perahu hias keliling kampung dan didoakan di TPI, lalu dilarung ke tengah laut. Ratusan warga bahkan ikut naik kapal ke tengah laut, berebut sesaji dan mengambil air laut yang dipercaya membawa berkah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Tegalkab.bps.go.id