Dr Grandprix, Dosen Muda ITB (Instagram/@gepekadja)
INDOZONE.ID - Dr Grandprix Thomryes Marth Kadja, dosen muda Institut Teknologi Bandung (ITB) asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), berhasil tembus ke jajaran ilmuwan top dunia.
Di usianya yang baru 32 tahun, namanya udah masuk daftar Top 2% Ilmuwan terbaik dunia versi Elsevier dan Stanford University sejak September 2024. Capaian ini menegaskan posisinya sebagai salah satu ilmuwan muda yang berpengaruh di Indonesia, bahkan dunia.
Baca juga: Dosen UNDIP Kembangkan Teknologi Cyborg Insect: Inovasi Perpaduan Biologi dan Robotika
Grandprix dikenal sebagai sosok yang istimewa. Pada tahun 2017, ia berhasil lulus doktor dari FMIPA ITB di usia yang masih sangat muda, yakni 24 tahun.
Dengan predikat Cumlaude, ia menuntaskan disertasinya yang membahas tentang sintesis, mekanisme, dan peningkatan hierarki zeolit ZSM-5.
Beberapa tahun setelahnya, prestasi Grandprix semakin bertambah. Ia menerima Penghargaan Achmad Bakrie ke-20 kategori Ilmuwan Muda berkat dedikasinya dalam penelitian material nano untuk energi berkelanjutan.
Selain itu, ia juga aktif menjalin kolaborasi dengan berbagai institusi riset bergengsi dunia. Mulai dari National Taiwan University of Science and Technology (NTUST), Kyushu University (Jepang), hingga Harvard University (Amerika Serikat).
Di ITB, Grandprix menjadi bagian dari Kelompok Keahlian Kimia Anorganik dan Fisik, serta aktif di Pusat Rekayasa Katalisis ITB (PRK-ITB) yang berdiri pada 2019.
Di sinilah ia bersama timnya menjadi pelopor dalam pengembangan material nano MXene di Indonesia. MXene adalah material nano dua dimensi yang baru ditemukan secara global pada tahun 2011.
“Lab kami adalah yang pertama mengembangkan MXene di Indonesia sejak 2019,” ungkap Grandprix sepert INDOZONE sadur dari laman resmi ITB, Senin (8/9/2025)
Keterbatasan fasilitas dalam negri menjadi tantangan utama bagi riset yang dilakukan. Meski begitu, Grandprix gak pernah menyerah.
“We make the best out of what we have. Kuncinya adalah kolaborasi dengan kolega di luar negeri. Muda itu bukan soal usia saja, tapi tentang semangat yang membara dan tidak pernah padam. Kita tidak boleh merasa kecil karena masih muda,” tegas Grandprix
Baca juga: Wow! Ini Dia Deretan Artis Indonesia yang Jadi Dosen Keren
Grandprix percaya kalau semangat dan kolaborasi adalah kunci agar riset dari Indonesia tetap relevan dan mampu bersaing dengan dunia internasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Itb.ac.id