Kategori Berita
KANAL
REGIONAL
Sabtu, 06 SEPTEMBER 2025 • 10:46 WIB

Dosen UNDIP Kembangkan Teknologi Cyborg Insect: Inovasi Perpaduan Biologi dan Robotika

Dosen UNDIP Kembangkan Teknologi Cyborg Insect: Inovasi Perpaduan Biologi dan RobotikaMochammad Ariyanto diundang di UNDIP Podcast (undip.ac.id)

INDOZONE.ID - Pernah membayangkan seekor kecoa yang sering dihindari atau bahkan merasa jijik, tapi bisa jadi penyelamat manusia saat kondisi darurat. 

Inovasi ini terbukti dari penelitian yang dikembangkan oleh Mochammad Ariyanto, berupa cyborg insects atau serangga hibrida robotik. Terobosan ini tentunya bisa buka peluang baru untuk misi penyelamatan dan kemanusiaan. 

Baca juga: Lulus Jalur Skripsi atau Publikasi: Apa Sih Bedanya? Mana yang Lebih Mudah

Gabungan Biologi dan Robotika

Ariyanto mengungkapkan bahwa riset yang ia lakukan ini memadukan biologi dan robotika. Cara ini dilakukan untuk misi pencarian dan penyelamatan korban bencana di lokasi yang sulit terjangkau, baik oleh manusia atau robot konvensional.

Teknologi ini menghadirkan kecoa sebagai perangkat elektronik miniatur, sehingga bisa dikendalikan seperti robot mikro.

Ide ini berawal dari akhir 2020, dimana saat itu Ariyanto sedang menempuh studi doktoral. Ia merenung mengenai sulitnya evakuasi saat bencana melanda, seperti gempa dan tsunami Fukushima maupun kota padat lainnya.

Dari sinilah, muncul ide untuk menggabungkan kecerdasan buatan alamiah serangga lewat sistem berbasis robotik.

Baca juga: Keren! Mahasiswa ITS Ciptakan RoboGO, Robot Pintar untuk Deteksi Sumbatan Saluran Bawah Tanah

Menggunakan Kecoa Madagaskar

Serangga pilihan Ariyanto adalah kecoa Madagaskar, ukurannya sekitar enam sentimeter serta bisa bergerak lincah, memanjat dinding, hingga menyusup ke celah sempit. Selain itu, kecoa ini juga bisa bertahan di lingkungan minim oksigen.

“Kemampuan ini menjadikan cyborg insect punya nilai tambah, karena tetap bisa berfungsi bahkan di lingkungan berbahaya, seperti area radioaktif,” ujarnya.

Untuk mengendalikan gerakan serangga, teknologi ini menggunakan wireless simulator backpack robotik mini, yang berukuran 2 x 3 sentimeter. Kecoa ini juga bisa sebagai robot pengintai yang dapat dikendalikan secara nirkabel, tanpa ganggu gerakan alaminya.

“Kalau kita memaksa membuat robot sepenuhnya mekatronik dengan ukuran sangat kecil, tantangannya jauh lebih kompleks. Maka pendekatan ini justru memanfaatkan keunggulan alami serangga sambil tetap memastikan kelangsungan hidupnya terjaga,” jelas Ariyanto.

Fitur dan Metode

Dalam mengembangkan inovasi ini, Ariyanto bekerja sama dengan Prof. Morishima dari Osaka University. Lalu juga ada dukungan Moonshot Research and Development (R&D), program dari Japan Science and Technology Agency (JST).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Undip.ac.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Dosen UNDIP Kembangkan Teknologi Cyborg Insect: Inovasi Perpaduan Biologi dan Robotika

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!