Ilustrasi demo mahasiswa (freepik)
INDOZONE.ID - Duduk di bangku kuliah tidak hanya soal mengikuti perkuliahan dan aktif organisasi, tapi juga menyadari peran penting mahasiswa. Salah satu peran mahasiswa adalah menjadi agent of change alias agen perubahan.
Tanggung jawab ini disematkan kepada mahasiswa bukan tanpa alasan. Posisi mahasiswa dinilai ideal karena tiga hal istimewa ini, yaitu ilmu pengetahuan, semangat muda, dan idealisme yang tidak memihak.
Kombinasi ini menjadikan mahasiswa selalu di posisi garda terdepan dalam menyuarakan aspirasi masyarakat dan memperjuangkan keadilan.
Baca juga: Bukan Acara Biasa, Indonesia Punya Kamu 2025 di IPB Ajak Pemuda untuk Jadi Agen Perubahan
Berikut tiga aksi mahasiswa yang berhasil membawa perubahan besar dan membekas dalam sejarah Indonesia:
Pada 1998, mahasiswa di seluruh Indonesia turun ke jalan meluncurkan aksi demonstrasi yang berujung pada tragedi dan memakan korban jiwa, termasuk mahasiswa. Perjuangan ini kemudian dikenal sebagai Gerakan Reformasi 1998.
Gerakan selanjutnya terjadi pada September 2019. Aksi mahasiswa dari berbagai kampus ini dipicu oleh penolakan terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) KPK yang dinilai bertentangan dengan semangat Reformasi 1998.
Baca juga: Ubah Sampah Jadi Berkah, Mahasiswi Undip Ajak Warga Sambiroto Olah Limbah Jahe Jadi Eco Enzyme
Gerakan mahasiswa besar lainnya muncul pada 2020 menolak UU Cipta Kerja. Aksi ini lahir dari keresahan karena undang-undang tersebut dianggap lebih menguntungkan investor daripada pekerja, serta berpotensi merugikan masyarakat.
Nah, tiga aksi di atas merupakan bukti nyata, bahwa mahasiswa berani mengambil sikap dan menyuarakan aspirasi. Mereka mencoba mendobrak stagnasi dan tatanan demi kesejahteraan rakyat.
Namun, menjadi agen perubahan tidak selalu harus melalui aksi besar. Mahasiswa juga bisa memulainya dari langkah-langkah sederhana yang mendorong perubahan, contohnya:
Baca juga: Dari IPK 2,69 Menjadi Asisten Profesor: Kisah Bagus Muljadi yang Mengubah Paradigma Dunia Akademik
Untuk mengurangi limbah tekstil, menyelamatkan sumber daya alam yang terbatas, serta melibatkan pengrajin dan komunitas, mahasiswa UNAIR memperkenalkan konsep slow fashion kepada masyarakat. Langkah ini mendorong kepedulian terhadap lingkungan sekaligus ekonomi lokal.
Mahasiswa BINUS berkolaborasi dengan dosen untuk memanfaatkan limbah buah menjadi produk ramah lingkungan bernama eco enzyme, yang rutin digunakan di kampus.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@mabaunpad.2025