INDOZONE.ID - Bagi mahasiswa tingkat akhir, skripsi itu bukan sekadar kertas yang dijlid rapi. Skripsi adalah hasil perjuangan panjang, begadang berhari-hari, revisi tanpa ujung, tumpukan catatan, sampai dompet yang makin tipis karena ongkos print.
Jadi kebayang dong gimana rasanya kalau hasil kerja keras itu tiba-tiba dibuang ke lantai?
Baca juga: Ini Dia Yudi Nurcahya, Dosen Sekaligus Wasit FIFA Asal Bandung yang Bergelar Doktor
Hal inilah yang lagi viral. Sebuah video yang memperlihatkan momen panas antara dosen dan mahasiswa di Universitas Nias, Sumatera Utara.
Dalam video berdurasi singkat itu, seorang dosen dan mahasiswa sedang terlibat cek-cok, dan tak lama setelahnya dosen tersebut terlihat melempar skripsi mahasiswa ke lantai. Seketika, situasi berubah jadi kericuhan.
Awalnya, mahasiswa datang untuk meminta tanda tangan dosen, syarat penting biar bisa lanjut ke sidang skripsi. Tapi, entah karena kesal atau merasa terganggu, sang dosen justru melempar skripsi mahasiswa.
Aksi itu bikin mahasiswa naik pitam. Salah satu dari mereka bahkan terdengar melontarkan kalimat keras, “Dimana ibu satu minggu ini?” yang seolah menuding dosen sulit ditemui. Emosi pun meledak, ada yang menendang meja, ada yang langsung mengamuk.
Momen setelah Dosen membuang skripsi mahasiswa ke lantai (Instagram/@folkjog)
Video ini cepat menyebar dan memicu perdebatan. Banyak netizen yang menganggap tindakan dosen kelewatan karena meremehkan perjuangan mahasiswa.
Buat mahasiswa, skripsi adalah wujud nyata dari kerja keras, bukan formalitas belaka. Bayangkan, berbulan-bulan mereka melakukan penelitian, menulis, bolak-balik konsultasi, lalu revisi tak berkesudahan.
Jadi, ketika hasil itu dibuang begitu saja, rasanya seperti usaha mereka dihina habis-habisan.
Apalagi, tanpa tanda tangan dosen, mahasiswa otomatis terhambat sidang. Artinya, semua perjuangan mereka bisa tertunda karena masalah kecil di meja bimbingan.
Sejak diunggah, video ini sudah ditonton lebih dari 1 juta kali dan mendapat ribuan komentar. Mayoritas netizen membela mahasiswa, menilai dosen seharusnya bisa tidak bertindak berlebihan dengan membanting skripsi mahasiswa tersebut.
Meski begitu, ada juga yang berusaha netral dengan bilang kalau konflik akademik mestinya diselesaikan lewat komunikasi, bukan emosi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@folkjog