INDOZONE.ID - Prestasi membanggakan datang dari dunia pendidikan dan teknologi Indonesia. Tiga pelajar SMA yang tergabung dalam Tim Bayu Sakti, sukses menorehkan hasil gemilang dengan menembus empat besar dunia pada ajang World Robot Summit (WRS) 2025 di Fukushima, Jepang.
Kompetisi yang berlangsung pada 10–12 Oktober 2025 ini diselenggarakan oleh Fukushima Institute for Research, Education and Innovation (FREI) bersama Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang. Ajang bergengsi tersebut diikuti para ahli dan inovator robotika dari berbagai negara.
Tim Bayu Sakti menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia sekaligus tim termuda dalam kategori Disaster Robotics Drone Challenge, yang menguji kemampuan robot untuk membantu operasi di area bencana.
Tim ini terdiri dari tiga pelajar SMA:
Dalam kompetisi Standard Disaster Robotics Drone Challenge, mereka ditantang untuk menampilkan drone yang mampu melakukan pemetaan area, manuver otomatis, serta mendeteksi tanda-tanda kerusakan dan bahaya di lokasi bencana.
Baca juga: Mahasiswa INSTIKI Buktikan Fisik Bukan Batasan, Juara 3 EduVision IPB
“Ini melampaui ekspektasi kami. Target kami adalah lolos masuk ke WRS dengan membawa nama baik Indonesia. Nyatanya kami bisa lolos hingga final dan bahkan urutan 4 teratas,” kata Ksatria, Ketua Tim Bayu Sakti.
“Kami mengalahkan tim-tim lainnya yang beranggotakan mahasiswa atau peneliti, dengan peralatan dan pengalaman yang lebih banyak,” tambah Owen.
“Sebagai tim paling muda, hasil Bayu Sakti membuktikan bahwa SDM Indonesia bisa bersaing ketat dengan SDM negara-negara maju,” sambung Arga.
Dalam ajang tersebut, tim Bayu Sakti memperkenalkan drone “Rajawali”, pesawat tanpa awak bertenaga kecerdasan buatan (AI) yang mampu beroperasi secara mandiri (autonomous).
Rajawali mampu memetakan area terdampak bencana, mendeteksi retakan, tanda bahaya (hazard labels), karat, dan berbagai indikator risiko lainnya.
Drone tersebut dikembangkan secara mandiri selama enam bulan sebagai persiapan menghadapi tantangan WRS 2025.
“Kami mau mengembangkan solusi nyata untuk menjawab permasalahan ini. Karena ditandingkan dengan solusi negara lain, ini menjadi ajang pembuktian bahwa Indonesia bisa mengembangkan teknologi ini secara berkualitas dan mandiri,” ujar Ksatria.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Keterangan Pers