Aplikasi Westa yang dikembangkan oleh dosen FEB UGM. (feb.ugm.ac.id)
INDOZONE.ID - Hingga saat ini, Indonesia masih terus bergelut dengan masalah sampah yang tak kunjung usai. Isunya bukan hanya soal jumlah sampah yang makin menumpuk, tapi juga cara pengelolaannya yang dianggap masih belum maksimal.
Melihat kemajuan teknologi digital yang begitu cepat, banyak pihak mulai mencari cara baru untuk membereskan masalah ini, termasuk dengan memanfaatkan kecerdasan buatan atau AI.
Menanggapi tantangan tersebut, Luluk Lusiantoro, seorang dosen dari Departemen Manajemen FEB UGM, bersama tim penelitinya menciptakan sebuah aplikasi pintar bernama Westa. Aplikasi ini dibuat khusus untuk mempermudah urusan pengelolaan sampah agar lebih rapi, efisien, dan terpantau lewat data yang akurat.
Ia mengungkapkan bahwa ide menciptakan Westa lahir dari rasa prihatinnya melihat sistem pengelolaan sampah di Indonesia yang menurutnya masih berantakan dan belum teratur.
Baca juga: 5 Prospek Kerja Lulusan Teknologi Pangan, Gajinya Bisa Tembus Rp15 Juta per Bulan
“Selama ini proses identifikasi jenis sampah masih banyak dilakukan secara manual oleh petugas pengumpul sampah atau pengepul. Padahal, proses tersebut tidak mudah dan tidak banyak orang yang bersedia melakukannya,” ujarnya.
Aplikasi Westa memungkinkan urusan memilah sampah jadi jauh lebih simpel. Pengguna cukup memotret sampah lewat kamera HP, lalu teknologi computer vision di dalamnya akan langsung mengenali jenis sampah tersebut secara otomatis.
Hebatnya lagi, aplikasi ini juga bisa menaksir berapa berat sampah yang kita kumpulkan. Data berat ini bukan sekadar angka, karena fungsinya sangat penting untuk menghitung perkiraan emisi karbon yang dihasilkan.
Dalam pengembangannya, tim peneliti menggunakan standar dari Environmental Protection Agency sebagai acuan hitungan emisinya. Selain tahu jenis sampahnya, Westa bahkan bisa mendeteksi merek produk apa yang menyumbang limbah tersebut.
Dosen Departemen Manajemen FEB UGM, Luluk Lusiantoro, S.E., M.Sc., Ph.D. (ugm.ac.id)
“Dengan mengidentifikasi merek produk, data sampah yang terkumpul dapat membantu menelusuri produsen yang produknya berkontribusi terhadap limbah,” tuturnya.
Fitur ini sangat berkaitan dengan prinsip Extended Producer Responsibility (EPR) dalam sistem ekonomi sirkular. Intinya, tanggung jawab sebuah perusahaan tidak selesai begitu produk laku terjual, tapi mereka juga harus ikut memikirkan nasib kemasan atau sisa produknya agar tidak merusak lingkungan.
Westa juga memiliki fitur geotagging untuk mencatat lokasi persis di mana sampah itu ditemukan. Hal ini memudahkan siapa pun untuk melihat peta persebaran sampah di berbagai titik wilayah secara lebih jelas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Feb.ugm.ac.id