INDOZONE.ID - Menanggapi ancaman krisis energi global dan kebutuhan energi bersih, tim peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan inovasi bahan bakar alternatif dari kelapa sawit.
Produk yang dinamakan "Benwit" (Bensin Sawit) dirancang sebagai bahan bakar rendah emisi yang efisien dan berkelanjutan.
Baca juga: Yemima Perangin-Angin, Raih Juara 1 Pilmapres Itera 2026 Berkat Inovasi AI Deteksi Kecemasan
Dr. Eng. Hosta Ardhyananta ST MSc, dosen dari Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS sekaligus ketua peneliti, menjelaskan bahwa inovasi ini lahir sebagai respon atas ketidakpastian pasokan bahan bakar fosil akibat situasi geopolitik dunia.
Rektor ITS, Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati, menambahkan bahwa Benwit berpotensi besar membantu pemerintah Indonesia mengurangi ketergantungan pada impor minyak bumi.
“Ini kesempatan bagi pemerintah untuk mengembangkan sumber energi alternatif di tengah isu krisis bahan bakar akibat konflik di wilayah Timur Tengah saat ini,” ucapnya.
Sementara itu, Hosta yang merupakan ahli di bidang polimer, komposit, dan nanomaterial menegaskan bahwa penelitian yang didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) ini fokus pada pengurangan residu yang dihasilkan dari proses produksi.
Dalam proses produksinya, tim ITS menggunakan metode catalytic cracking, sebuah metode seperti "gunting molekuler", yang memecah molekul besar pada minyak sawit mentah (CPO) menjadi molekul hidrokarbon lebih ringan agar bisa digunakan sebagai bensin.
Awalnya, tim menggunakan katalis berbasis alumina yang menghasilkan rendemen bensin sekitar 60 persen pada suhu tinggi.
Baca juga: Tim UNAIR Borong Medali Emas di Biolexion 2.0 Berkat Solusi Hutan Berbasis Teknologi
Namun, melalui pengembangan lebih lanjut, mereka menciptakan katalis baru dengan menggabungkan nikel oksida dan tembaga oksida.
Hasilnya ternyata sangat signifikan, di mana suhu produksi berhasil diturunkan, sementara hasil produksi bensin melonjak hingga 83 persen.Produk akhirnya menghasilkan karakteristik yang sangat mirip dengan bensin komersial yang beredar di pasaran.
Inovasi tersebut juga mengedepankan prinsip zero emission atau bebas limbah. Sisa gas dari proses produksi dapat digunakan sebagai pemanas mesin.
“Karena karakteristiknya yang menyerupai oli atau minyak jelantah, residu cair itu bisa dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar kompor,” tambah Hosta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Its.ac.id