INDOZONE.ID mahasiswa - Tiga Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil meraih Juara 3 dalam ajang UGM Public Health Hackathon 2026 melalui inovasi sistem pencegahan tuberkulosis di lingkungan kerja.
Kompetisi di sektor kesehatan tingkat nasional tersebut diikuti berbagai tim mahasiswa dari seluruh Indonesia dan digelar di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Tim bernama TB-SHIELD itu terdiri dari Anindita Azkia Fauzana dari Fakultas Kedokteran, Bayu Cahyo Bintoro dari Fakultas Kedokteran Gigi, dan Intan Asmi Saharani dari Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin.
Mereka menghadirkan inovasi berupa sistem pendukung pencegahan tuberkulosis (TBC) di ruang kerja tertutup (indoor) dengan menggabungkan pendekatan teknologi, kesehatan masyarakat, hingga aspek psikososial.
Inovasi tersebut lahir dari tingginya angka kasus tuberkulosis di Indonesia, khususnya pada kelompok usia produktif yang banyak beraktivitas di lingkungan kerja indoor dengan intensitas interaksi tinggi.
Selain risiko penularan di ruang tertutup, tim juga menyoroti masih adanya stigma sosial terkait TBC yang membuat sebagian orang enggan melakukan pemeriksaan kesehatan secara terbuka dan berkala.
Anindita menjelaskan bahwa TB-SHIELD dirancang untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan sehat melalui sistem pemantauan risiko yang lebih terintegrasi.
“TB-SHIELD merupakan sistem yang menggabungkan teknologi, kesehatan masyarakat, dan pendekatan psikososial untuk menciptakan ruang kerja yang lebih aman. Inovasi ini berfokus pada pemantauan risiko, peningkatan kualitas udara ruangan, serta pengelolaan tindak lanjut kesehatan yang lebih terstruktur bagi pekerja,” tuturnya.
Baca juga: Daftar 5 Kampus Swasta Terbaik di Bandung, Ada Kampus Favoritmu?
Sistem tersebut juga difokuskan pada pemantauan kualitas udara ruangan, identifikasi risiko penularan, serta pengelolaan tindak lanjut kesehatan pekerja secara lebih terstruktur.
Sementara itu, Bayu, menyebut mereka perlu mengombinasikan aspek kesehatan masyarakat, teknologi digital, material nano, kualitas udara, hingga pendekatan psikososial agar inovasi tetap relevan dan memungkinkan diterapkan di dunia kerja secara nyata.
Intan turut menambahkan bahwa tantangan lain muncul saat menyederhanakan konsep yang cukup kompleks agar mudah dipahami dewan juri dan audiens selama kompetisi berlangsung.
“Kami juga harus mempersiapkan konsep dan prototipe secara matang, serta menyederhanakan ide yang kompleks agar mudah dipahami oleh juri dan audiens. Untuk mengatasinya, tim membagi peran sesuai latar belakang keilmuan dan memperkuat penyampaian melalui visual, prototype, serta skenario penggunaan,” tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Unair.ac.id